Welcome!

Perilaku Free Sex pada Remaja

January 1st, 2016

BAB I

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang

Masa remaja adalah masa yang penuh gejolak dan penuh dengan berbagai pengenalan dan petualangan akan hal-hal yang baru sebagai bekal untuk mengisi kehidupan mereka kelak. Sayangnya, banyak diantara mereka yang tidak sadar bahwa beberapa pengalaman yang tampaknya menyenangkan justru dapat menjerumuskan. Oleh karena itu tidak sedikit remaja yang jatuh kedalam perbuatan negatif, salah satunya adalah seks bebas atau hubungan seks yang dilakukan diluar pernikahan.

Adanya dorongan seksual yang mempunyai arti kecenderungan biologis untuk mencari tanggapan seksual dan tanggapan yang berbau seksual dari orang lain, biasanya dari lawan jenis muncul pada awal remaja dan tetap bertahan kuat sepanjang hidup. Ada perbedaan pendapat tentang apakah dorongan seks dibawa dari lahir atau dipelajari. Menurut beberapa sarjana yang mempertanyakan apakah ada suatu dorongan seks bawaan, menegaskan bahwa impuls kita untuk mencari pasangan seks dan menggunakan organ seks merupakan hasil dari belajar sosial. Akan tetapi, karena bersifat universal dan terdapat pada semua manusia, kebanyakan ahli mengganggap bahwa dorongan seks manusia adalah warisan biologis (Paul Horton, 1987:147). Namun demikian, banyak dari mereka menyalahgunakan adanya dorongan seksual sehingga terjadi masalah masalah, diantaranya seks bebas.

Contoh kasus yang pernah terjadi adalah Puluhan Mahasiswi Jogja Jual Diri, Tarif Short Time 1,5 Juta (RimaNews). Jalan Raya Mauk Tangerang Rawan Seks Bebas, Polisi salahkan PJU (RimaNews). Setengah dari Jumlah Gadis Muda Kota Hilang Keperawanan (Beritakaltara.com). Mengutip data  Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)  hingga 2014 ini menunjukkan,  setengah dari jumlah gadis muda perkotaan dan 62,7 persen  pelajar putri SMP tidak perawan (Beritakaltara.com)

 

 

 

Data dari beberapa sumber menunjukan tingkat seks bebas di Indonesia mengalami naik turun. Berikut data mengenai kasus hubungan seks bebas di kalangan remaja/pelajar.

Angka hubungan seks luar nikah Tahun Peneliti Sumber
42.3 % 2007 Remaja Cianjur Lakukan Seks Sebelum Nikah
42,3 % Siswi Cianjur Hub Sex Pranikah
44% ~ 54% 2010 BKKBN Jika tak ada harga dirimu pinjamlah
51% remaja Jabodetabek 2010 BKKBN Jika tak ada harga dirimu pinjamlah
51 persen remaja Jabodetabek tidak perawan
20 ~ 30% 2000 Boyke Dian Nugraha Seks bebas perilaku remaja masa kini
16 ~ 20 % Remaja dan hubungan seksual pranikah
29 % Di Jawa Barat 29 % remaja melakukan seks luar nikah
18 ~ 46.5% Tiap tahun remaja seks pranikah meningkat
65% 2011 Pusat Informasi Konseling Remaja 65 % Siswa di Ciawi bogor pernah berhubungan seks
1% ~ 5% Berkaitan dengan kesehatan reproduksi:
1,3 ~ 20% Seksualitas remaja di Indonesia
20% Peningkatan warga Karimun hamil di luar nikah: 20%
6.3% ~10% KPAI ragukan data BKKBN soal 51% pelajar ngeseks di luar nikah
26% Aborsi dan pergaulan bebas remaja mengkhawatirkan
5% ~ 7% 1995/1996 Overview adolescent health problems and services
15 ~ 20% remaja usia sekolah 2007 Okanegara Perilaku Berisiko Mahasiswa
22,6% 2007 Ari Saputra Perilaku Berisiko Mahasiswa
29.5% 2002 Depkes Perilaku Berisiko Mahasiswa
34 % dari yang pacaran 2010 Mutiara, Wanti; Komariah, Maria; Karwati Gambaran Perilaku Seksual Dengan Orientasi Heteroseksual Mahasiswa Kos Di Kecamatan Jatinangor – Sumedang
51 % 2006 Christopher H Purdy, DKT Indonesia Fruity Fun And Safe: Creating a Youth Condom Brand in Indonesia. Ringkasan dalam bahasa Indonesia: Kondom untuk Remaja Indonesia
93% dari mahasiswi 2002 Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Pelatihan Bisnis dan Humaniora (LSCK PUSBIH) Survei Keperawanan di Yogyakarta
39% ABG 2011 ? DKT Indonesia 39 Persen ABG Indonesia Melakukan Seks Pra-Nikah
? Mei 2011 DKT Indonesia Waduh, Ogah Gunakan Kondom, Mahasiswa Bandung Tercatat Angka Tertinggi Pelaku Seks Luar Nikah
56% 2008 Kristian Widya Wicaksono 56% Remaja Melakukan Hubungan Sex di Luar Nikah
63% 2009 BKKBN Astaghfirullah 63 % remaja indonesia berbuat zina
32 % 2010 Komisi Perlindungan Anak Indonesia 32 Persen Remaja Indonesia Pernah Berhubungan Seks
62,7 % 2008 Komnas Perlindungan Anak Astaghfirullah 60% remaja indonesia lakukan seks di rumah sendiri
20,9 % 2013 BKKBN 20,9% Remaja Indonesia Hamil di Luar Nikah
35,01 % 2013 Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Sulawesi Utara. Di Manado, Remaja Hamil di Luar Nikah Meningkat
20 2010 Studi: 20% Remaja Jakarta Hamil Luar Nikah
? 2007 Biro Pusat Statistik Young Adult Reproductive Health Survey 2007
Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia 2007
47% – 54% 2014 Al Fatih Studios Survei: Seks Bebas Remaja Tertinggi di Bandung

 

Lantas, apa sebenarnya seks bebas itu, apa saja faktor – faktor yang meyebabkannya, kapan dan dimana seks bebas marak dilakukan, bagaimana dampak dan cara penanggulangannya, serta siapa yang mempunyai peran aktif dalam menanggulanginya. Itulah yang akan penyusun ulas dalam makalah ini.

Seks adalah sebuah naluri alamiah yang ada dalam setiap diri makhluk hidup di bumi ini, termasuk  pada diri manusia. Seks sangat di perlukan oleh makhluk hidup untuk berkembang biak dan melanjutkan keturunan agar tidak punah. Pada era globalisasi sekarang ini di mana teknologi dan kecanggihan sudah menjadi-jadi dan gaya hidup manusia pun sudah berubah, kebebasan semakin meningkat di antara pergaulan para manusia, seks bukan menjadi hal yang asing atau tabu lagi bagi mereka para pecinta dunia. Bagi para remaja yang selalu di agung-agungkan sebagai generasi penerus bangsa, seks juga bukan lagi hal yang asing bagi mereka. Para ahli pendidikan telah sepakat bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun. Para remaja tidak dapat lagi di katakan sebagai anak-anak namun dia juga belum bisa di katakan sebagai orang dewasa. Masa remaja adalah masa dimana seseorang yang sedang menjalani proses menuju dewasa, biasanya pada proses ini remaja berusaha mencari jati diri mereka. Dalam sebuah pencarian jati diri inilah mereka akan mendapatkan berbagai informasi dari berbagai sumber tentang kehidupan dan salah satunya adalah kehidupan seks.

 

Menurut teori Kohlberg, Perilaku seks bebas sebagai salah satu perilaku menyimpang remaja dari tahun ke tahun semakin beresiko, remaja melakukan semua itu karena mereka tidak mendapatkan pendidikan kesehatan reproduksi, sehingga kurang tahu bahaya atau dampak dari seks bebas. Remaja yang pada umumnya mempunyai rasa ingin tahu yang besar tentang seksualitas terpaksa mencari informasi sendiri guna memuaskan rasa keingintahuannya tersebut. Pergaulan bebas di kalangan remaja yang akhir-akhir ini terjadi adalah karena remaja mencari pengetahuan dan informasi tentang seksualitas sendiri lewat teman yang sama-sama belum tahu akibat seks bebas. Majalah-majalah porno, video, dan tempat hiburan malam yang memberikan akses informasi tanpa sensor sehingga proses kematangan alat reproduksi pada remaja tidak diimbangi dengan informasi yang baik. (http://www.psikologizone.com, 2010)

 

  • Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, kita dapat merumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut :

  1. Apa pengertian dari seks bebas ?
  2. Dari berbagai fakta yang beredar, kapan dan dimana pelaku seks bebas dapat melakukan ?
  3. Mengapa melakukan seks bebas ?
  4. Siapa yang berperan penting dalam menanggulangi adanya seks bebas ?
  5. Bagaimanakah upaya pencegahan seks bebas ?

 

  • Tujuan
  1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan seks bebas
  2. Mengetahui fakta,kapam dan dimana pelaku seks bebas dapat melakukan
  3. Mengetahui alasan melakukan seks bebas
  4. Mengetahui siapa yang berperan penting dalam menanggulangi adanya seks bebas
  5. Mengetahui upaya pencegahan dan menanggulangi tindakan seks bebas

 

  • Manfaat
  1. Mencenggah adanya Seks Bebas di kalangan sekolah dan luar sekolah
  2. Menanggulangi maraknya Seks Bebas dikalangan sekolah maupun luar sekolah

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Seks Bebas

Menurut beberapa tokoh ialah :

Pengertian seks bebas menurut Kartono (1977) mendefinisikan bahwa seks bebas tidak beda dengan pelacuran (prostitusi) karena aktivitas seksual yang mereka lakukan tidak lagi mengindahkan nilai-nilai dan norma-norma dalam masyarakat (Anna Salisa, 2010:14).

Seks dalam arti sempit dalam KBBI diartikan adalah jenis kelamin. Seksualitas sering diartikan hubungan kelamin umumnya antara laki-laki dan perempuan. Sedangkan seksualitas dalam arti luas adalah suatu keinginan untuk menjalin kontak, kehatangan, kemesraan, atau mencintai. Respon dari seksualitas meliputi memandang, berpegangan tangan, berciuman, memuaskan diri sendiri dan menimbulkan orgasme. Seksualitas merupakan bagian dari diri yang ada dalam individu secara menyeluruh.

Dapat disimpulkan bahwa seks bebas adalah hubungan seksual yang dilakukan dengan orang yang berdasarkan suka sama suka, mulai dari kissing, genital stimulation kemudian hubungan seksual.

 

 

  1. Kapan dan Di mana Pelaku dapat Melakukan Seks Bebas

Menurut beberapa jurnal pendidikan menyebutkan bahwa para remaja kerap kali kepergok melakukan seks bebas ketika mereka mempunyai banyak waktu luang. Menurut studi kasus yang kita peroleh melalu berita online, tempat-tempat yang sering ditempati untuk melakukan hubungan seks bebas, diantaranya adalah, sekolah, lingkungan rumah seperti warnet, losmen, bahkan dikalangan keluarga beradab mampu menyewa kamar disuatu hotel hanya untuk melakukan hubungan seks bebas tanpa diketahui oleh orang tuanya (www.kompasiana.com/noviaby/pergaulan-bebas-di-kalangan-remaja)

 

  1. Alasan dan Faktor Para Remaja/Pelajar Melakukan Seks Bebas

Menurut Dr. Boyke (Sugiyanto, 2012:4) beberapa fakta membuktikan bahwa banyak persoalan cinta dan seksualitas dikalangan remaja mengarah pada beberapa alasan yaitu :

  1. Banyak remaja memiliki persepsi yang salah tentang cinta. Misalnya, “Cinta itu memiliki dan harus mau berkorban”.

Ketika cinta singgah di hatinya, ia tidak rela hubungan cintanya disudahi. Konsekuensinya, ia pun rela melakukan apa saja yang diinginkan pasangannya, termasuk melakukan perbuatan yang belum layak mereka lakukan.

  1. Tawaran erotisme dan stimulasi seksual yang seronok, vulgar, yang disuguhkan media massa begitu deras mengalir di ruang publik. Hal tersebut sangat berdampak buruk pada mentalitas para remaja. Tawaran erotisme dan stimulasi seksual tersebut akan menimbulkan implikasi psikologis di kalangan remaja yang sedang dalam proses transisi mencari identitas diri.
  2. Cinta dan seksualitas merupakan hal yang sangat menarik perhatian remaja. Hal ini disebabkan karena pada masa remaja tersebut segala perangkat seksualnya mengalami perkembangan pesat dan dorongan seksualnya pun menjadi hal yang sangat akrab dalam kehidupan mereka.
  3. Cinta dan seks adalah dorongan alami yang tak dapat dipisahkan dalam perkembangan setiap manusia yang normal. Dorongan seks tersebut sering menimbulkan masalah tetapi bukan tidak bisa diatasi. Seks harus dilihat dari konteks kehidupan kita secara utuh, tidak parsial. Dorongan itu bisa disublimasi menjadi potensi yang positif untuk berprestasi bila ditangai secara benar.
  4. Kini, seks bukan monopoli orang dewasa atau orangtua lagi. Seks juga milik remaja. Nilai seks yang luhur itu pun sudah sedikit demi sedikit meninggalkan ketabuannya. Oleh sebab itu, nilai luhur seks itu harus ditanamkan pada remaja. Kalau dulu orang malu membicarakannya meskipun begitu banyak orang mengalami masalah seks, malu kalau ketahuan punya pacar, sekarang sebaliknya kalau tidak berani berpacaran bisa dinilai kuper dan ketinggalan zaman. Remaja, kini cepat dewasa. Malu kalau sudah duduk di bangku SMP, apalagi SMA belum memiliki pacar.
  5. Para remaja kita sekarang ini (khususnya di kota kota besar termasuk di Pontianak) telah mengalami pergeseran nilai yang cukup signifikan terhadap seks ini. Pergaulan bebas, pornografi, pornoaksi, seks bebas (free sex), intercouse, sex pranikah, dan berbagai aktivitas seksual lainnya bukan lagi sesuatu yang asing bagi mereka. Mereka begitu permisif dengan hal-hal tersebut. Di mata mereka, di dalam seks hanya ada kesenangan. Sementara sisi buram akibat perbuatan mereka hampir tidak pernah dipikirkan .
  6. Banyak remaja yang kurang bahkan tidak mempunyai pemahaman yang memadai tentang masalah cinta dan seks ini.

Banyak diantara mereka yang tidak mengenal organ tubuhnya sendiri secara baik, sementara tingkat keingintahuan mereka mengenai masalah seks ini begitu besar. Untuk memenuhi keingintahuan mereka yang begitu besar tersebut, mereka mencarinya secara sembunyi-sembunyi. Akibatnya, tidak sedikit di antara mereka yang terjebak dalam informasi yang salah bahkan menyesatkan yang dapat membahayakan perkembangan mental mereka. Untuk semua fakta itulah, informasi yang jelas, lugas dan komprehensif perihal makna hakiki cinta dan seks dengan segala dampak yang ditimbulkannya mutlak diperlukan.

Dapat diketahui juga beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seks bebas menurut Dr. Boyke Dian Nugraha (Sugiyanto, 2012:6) adalah:

  1. Industri Pornografi

Luasnya peredaran materi pornografi memberi pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan pola perilaku seks remaja.

  1. Pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi

Banyak informasi tentang kesehatan reproduksi yang tidak akurat, sehingga dapat menimbulkan dampak pada pola perilaku seks yang tidak sehat dan membahayakan.

  1. Pengalaman masa anak-anak

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa

remaja yang pada masa anak‐anak mengalami pengalaman buruk akan mudah terjebak ke dalam aktivitas seks pada usia yang amat muda dan memiliki kencenderungan untuk memiliki pasangan seksual yang berganti‐ganti.

  1. Pembinaan Religius

Remaja yang memiliki kehidupan religius yang baik, lebih mampu berkata ‘tidak’ terhadap godaan seks bebas dibandingkan mereka yang tidak memperhatikan kehidupan religious.

 

  1. Cara Mengatasi Permasalahan Seks Bebas

Terkait dengan beberapa alasan diatas, dapat disimpulkan bahwa mereka melakukan seks bebas karena adanya faktor internal dan eksternal, hal ini lah yang harus ditanggapi secara serius oleh orang tua dan masyarakat sekitar seperti guru khususnya guru BK. Beberapa upaya yang dapat dilakukan Orang Tua untuk mencegah  adanya tindakan free sex menurut Dr. Suparyanto, M.Kes adalah :

  1. Keluarga harus mengerti tentang permasalahan seks, sebelum menjelaskan kepada anak-anak mereka.
  2. Seorang ayah mengarahkan anak laki-laki, dan seorang ibu mengarahkan anak perempuan dalam menjelaskan masalah seks.
  3. Jangan menjelaskan masalah seks kepada anak laki-laki dan perempuan di ruang yang sama.
  4. Hindari hal-hal yang berbau porno saat menjelaskan masalah seks, gunakan kata-kata yang sopan.
  5. Meyakinkan kepada anak-anak bahnwa teman-teman mereka adalah teman yang baik.
  6. Memberikan perhatian kemampuan anak di bidang olahraga dan menyibukkan mereka dengan berbagai aktivitas.
  7. Tanamkan etika memelihara diri dari perbuatan-perbuatan maksiat karena itu merupakan sesuatu yang paling berharga.
  8. Membangun sikap saling percaya antara orang tua dan anak

 

Adapun peran dan upaya yang dapat dilakukan Guru BK untuk pencegahan seks bebas adalah  :

  1. Memberikan sosialisasi tentang seks bebas
  2. Membuat program kerja yang inovatif terkait dengan pendidikan seks dikalangan sekolah
  3. Membangun interaksi yang harmonis kepada siswa agar siswa lebih terbuka dan terkesan tidak malu untuk bercerita tentang hal yang terkait dengan seks.
  4. Konselor/Guru BK dapat melakukan/memberikan layanan kepada siswa-siswinya mengenai hubungan seks bebas baik secara kalsikal maupun individual.
  5. Konselor/Guru BK juga dapat melakukan pendekatan kepada orang tua siswa untuk memperhatikan aktivitas yang dilakukan anaknya di rumah.
  6. Memberikan pendidikan seks di sekolah mengenai kesehatan reproduksi, bahaya seks bebas, dan referal
  7. Perlunya kerja sama antara orang tua dengan pihak sekolah mengenai pendidikan moral anak mereka.
  8. Konselor/Guru BK harus aktif mengajarkan moral dan etika kepada para siswanya dan memberi peringatan kepada mereka agar tidak mengulanginya lagi.

BAB III

PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

Seks bebas adalah hubungan seksual yang dilakukan dengan orang yang berdasarkan suka sama suka, mulai dari kissing, genital stimulation kemudian hubungan seksual.

Alasan dan faktor para remaja/pelajar melakukan seks bebas ialah banyak remaja memiliki persepsi yang salah tentang cinta, tawaran erotisme dan stimulasi seksual yang seronok, vulgar, yang disuguhkan media massa begitu deras mengalir di ruang public, cinta dan seksualitas merupakan hal yang sangat menarik perhatian remaja, cinta dan seks adalah dorongan alami yang tak dapat dipisahkan dalam perkembangan setiap manusia yang normal, seks bukan monopoli orang dewasa atau orangtua lagi, para remaja sekarang (khususnya di kota kota besar) telah mengalami pergeseran nilai yang cukup signifikan terhadap seks, banyak remaja yang kurang bahkan tidak mempunyai pemahaman yang memadai tentang masalah cinta dan seks.

Cara mengatasi permasalahan seks bebas diantaranya adalah keluarga harus mengerti tentang permasalahan seks, sebelum menjelaskan kepada anak-anak mereka, seorang ayah mengarahkan anak laki-laki, dan seorang ibu mengarahkan anak perempuan dalam menjelaskan masalah seks, angan menjelaskan masalah seks kepada anak laki-laki dan perempuan di ruang yang sama, hindari hal-hal yang berbau porno saat menjelaskan masalah seks, gunakan kata-kata yang sopan, meyakinkan kepada anak-anak bahnwa teman-teman mereka adalah teman yang baik, tanamkan etika memelihara diri dari perbuatan-perbuatan maksiat karena itu merupakan sesuatu yang paling berharga.

Adapun upaya yang dapat dilakukan Guru BK untuk pencegahan seks bebas adalah :

  1. Memberikan sosialisasi tentang seks bebas
  2. Membuat program kerja yang inovatif terkait dengan pendidikan seks dikalangan sekolah
  3. Membangun interaksi yang harmonis kepada siswa agar siswa lebih terbuka dan terkesan tidak malu untuk bercerita tentang hal yang terkait dengan seks.

 

  1. Saran
  2. Orang tua diharapkan memperhatikan dalam membimbing dan mengarahkan remaja dengan memberikan andangan yang benar mengenai persepsi pacaran agar terhindar dari seks bebas.
  3. Untuk remaja agar dapat meningkatkan keimanan dengan mengisi kegiatan yang bermanfaat serta bergaul dengan teman secara benar agar dapat terhindar dan terjerumus pada perilaku seks bebas.
  4. Menyalurkan energi dengan positif, misalnya dengan kegiatan keolahragaan, pecinta alam dan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat mengembangkan potensi dan bakat diri.
  5. Konselor atau Guru BK lebih memberikan layanan preventif dan lebih memperhatikan peserta didik.

 

Daftar Pustaka

Horton,Paul.B. dkk.1987.Sosiologi. Jakarta: Erlangga.

 

Kohlberg. 2010. Teori Perkembangan Moral Kohlberg. Diperoleh 15 November 2015, dari http://www.psikologizone.com/teori-perkembangan-moral-kohlberg/06511736

 

http://www.psikologizone.com, 2010 (diakses pada 11 November 2015)

Kompasiana. com. 2013. Pergaulan Bebas di Kalangan Remaja. www.kompasian.com/noviaby/pergaulan-bebas-di-kalangan-remaja (diakses tanggal 10 November 2015)

Alfiani, Diyah. 2013. Skripsi: Perilaku Seksual Remaja dan Faktor Determinannya di SMA Se-Kota Semarang. (Diakses tanggal 15 November 2015)

 

Yulista, Nina Uyun. 2011. Upaya Sekolah dalam Menanggulangi Kenakalan Siswa di SMP 1 Kanji Kabupaten Situbondo. (Diakses tanggal 15 November 2015)

 

Salisa Anna. 2010. Skripsi: Perilaku Seks Pranikah di Kalangan Remaja (Diakses tanggal 7 Desember 2015).

 

http://www.psikologizone.com/teori-perkembangan-moral-kohlberg/06511736

 

Sugiyanto, 2012. Bahaya Seks Bebas pada Remaja.

http://staff.uny.ac.id/sites/seks-bebas-pada-remaja.pdf  (diakses tanggal 8 Desember 2015)

 

 

 

 

 

Teori Behavior

January 1st, 2016

MAKALAH KELOMPOK

Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Teori dan Pendekatan Konseling

 

Pendekatan Behavior

 

 

 

 

Disusun oleh :

  1. Khalida Luthfiana Layli (14104241008)
  2. Dian Mariana Ulfa (14104241023)
  3. Pramita Prabasari (14104241037)
  4. Surga Nadiyya A N (14104244004)

 

PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2014/2015

Pendahuluan

Sejarah Tokoh Teori Pendekatan Behavior

 

B.F Skinner (1904-1990) dibesarkan dalam keluarga yang hangat dan harmonis. Selama dia tumbuh, Skinner sangat tertarik dalam mengembangkan berbagai macam hal menarik yang sesuai dengan keahliannya. Dia memperoleh gelar PhD Psikologi di Universitas Harvard pada tahun 1931 dan kembali lagi ke Harvard setelah mengajar di beberapa universitas. Dia memiliki dua putri, yang satu adalah ahli ilmu jiwa dan satunya lagi seorang seniman.

Skinner adalah tokoh yang terkenal didalam pemahaman teori behavior dan dianggap sebagai bapak pendekatan behavior. Skinner memperjuangkan pendekatan behavior sampai pada akar-akarnya, yang menekankan pokok perhatian pada dampak lingkungan terhadap perilaku. Skinner juga memutuskan tidak percaya bahwa manusia mempunyai pilihan bebas. Dia mengakui bahwa perasaan dan pikiran ada, tetapi dia menyangkal bahwa semua itu dikarenakan  tindakan kita. Sebaliknya dia menekankan hubungan objek sebab-akibat, yang nampak pada kondisi lingkungan dan perilaku. Skinner menaruh banyak perhatian yang diberikan pada pikiran Negara dan penggerak, yang mana  tidak dapat dijalankan dan diudah secara langsung, dan kurang berfokus pada faktor yang dapat mengubah kondisi lingkungan secara langsung. Dia sangat tertarik dalam konsep penguatan, yang dia aplikasikan dalam hidupnya sendiri. Sebagai contoh, setelah bekerja beberapa jam, dia  ingin pergi ke pembuatan kepompong (seperti tenda), memakai headphone dan mendengarkan music klasik (Frank Dattilio, personal communication, December 9, 2006).

Kebanyakan pekerjaan Skinner berada di Laboratorium eksperimen alam, tapi selain itu dapat menggunakan idenya untuk mengajar, mengatasi masalah manusia, dan perencanaan sosial. Science and Human Behavior (Skinner, 1953) penjelasan paling terbaik bagaimana Skinner memiliki gagasan tentang konsep behavior yang dapat digunakan disetiap bagian perilaku manusia. Dia dalam Walden II (1948) Skinner menggambarkan sebuah khayalan didalam idenya, berasal dari laboratorium, sebagai isu sosial. Bukunya 1971, Beyond Freedom and Dignitty, menujukan kebutuhan untuk mengubah secara drastic jika masyarakat kita ingin bertahan hidup.  Skinner percaya bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi akan memegang janjinya untuk masa depan yang lebih baik.

 

 

 

  1. Pandangan Kaum Behavioris terhadap Hakikat Manusia

Behaviorisme adalah suatu pandangan ilmiah tentang tingkah laku manusia. Dalil dasarnya adalah bahwa tingkah laku itu tertib dan bahwa eksperimen yang dikendalikan dengan cermat akan menyingkapkan hukum-hukum yang mengendalikan tingkah laku. Behaviorisme ditandai oleh sikap membatasi metode-metode dan prosedur-prosedur pada data yang dapat diamati. Setiap orang dipandang memiliki kecenderungan-kecenderungan positif dan negative yang sama. Manusia pada dasarnya dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan sosial budayanya. Segenap tingkah laku manusia itu dipelajari. Meskipun berkeyakinan bahwa segenap tingkah laku pada dasarnya merupakan hasil dari kekuatan-kekuatan lingkungan dan faktor-faktor genetic, para behavioris memasukan pembuatan putusan sebagai salah satu bentuk tingkah laku.

John Watson, pendiri behaviorisme, adalah seorang behavioris radikal yang pernah manyatakan bahwa ia bisa mengambil sejumlah bayi yang sehat dan menjadikan bayi-bayi itu apa saja yang diinginkannya (dokter, ahli hukum, seniman, perampok, pencopet) melalui bentukan lingkungan. Jadi Watson menyingkirkan dari psikologi konsep-konsep seperti kesadaran, determinasi diri, dan berbagai fenomena subjektif lainnya. Ia mendirikan suatu psikologi tentang kondisi-kondisi tingkah laku yang dapat diamati.

Terapi tingkah laku, berbeda dengan sebagian besar pendekatan terapi lainnya, ditandai oleh :

  1. Pemusatan perhatian kepada tingkah laku yang tampak dan spesifik,
  2. Kecermatan dan penguraian tujuan-tujuan treatment,
  3. Perumusan prosedur treatment yang spesifik yang sesuai dengan masalah, dan
  4. Penaksiran objektif atas hasil-hasil terapi.

Pada dasarnya, terapi tingkah laku diarahkan pada tujuan-tujuan memperoleh tingkah laku baru, penghapusan tingkah laku yang maladaptive, serta memperkuat dan mempertahankan tingkah laku yang diinginkan. Berbagai teknik tersedia, yang keefektifannya bervariasi dalam menangani masalah-masalah tertentu. Misalnya, teknik-teknik aversi tampaknya paling berguna sebagai cara-cara untuk mengembangkan kendali dorongan; orang yang mengalami hambatan dalam menampilkan diri dan dalam bergaul bisa mengambil manfaat dari latihan asertif; pengulangan tingkah laku berguna untuk memperkuat tingkah laku yang baru diperoleh; desensitisasi tampaknya paling berguna bagi penanganan fobia-fobia; pencontohan yang digabungkan dengan perkuatan positif tampak cocok bagi perolehan tingkah laku sosial yang kompleks.

  1. Karakteristik dan Asumsi Dasar Konseling Behavioristik

Terapi tingkah laku adalah penerapan aneka ragam teknik dan prosedur yang berakar pada berbagai teori tentang belajar. Terapi ini menyertakan penerapan yang sistematis prinsip-prinsip belajar pada pengubahan tingkah laku ke arah cara-cara yang lebih adaptif. Pendekatan ini, telah memberikan sumbangan-sumbangan yang berarti, baik pada bidang-bidang klinis maupun pendidikan.

Berdasarkan teori belajar, modifikasi tingkah laku dan terapi tingkah laku adalah pendekatan-pendekatan terhadap konseling dan psikoterapi yang berurusan dengan pengubahan tingkah laku.

Salah satu aspek yang paling penting dari gerakan modifikasi tingkah laku adalah penekanannya pada tingkah laku yang bisa didefinisikan secara operasional, diamati, dan diukur. Tingkah laku, bukan konstruk-konstruk yang tidak bisa diukur yang vital bagi pendekatan-pendekatan psikodinamik, adalah fokus perhatian terapeutik.

  1. Terapi perilaku berbasis pada asas dan cara pendekatan metode. Dengan percobaan mengambil asas dari belajar merupakan system yang diaplikasikan untuk menolong orang merubah perilaku yang kurang baik. Pembeda karakter dari pelaksana perilaku adalah sistematika ketaatan mereka untuk ketelitian dan penilaian yang empiris (nyata). Perilaku terapis bertujuan mengobati negara dalam hal tujuan konkret untuk membuat replikasi intervensi mereka mungkin. Tujuan pengobatan telah disetujui oleh terapis dan klien. Keseluruhan bagian terapi, sang terapis memahami masalah perilaku dan merawat kondisi mereka. Metode penelitian digunakan untuk mengevaluasi keefektifan keduanya yaitu penaksiran dan pengobatan. Teknik terapi yang digunakan harus menunjukkan efektivitas. Singkatnya, konsep dan prosedur perilaku dinyatakan secara eksplisit, diuji secara empiris, dan direvisi terus.
  2. Penawaran terapi perilaku dengan masalah klien saat ini serta faktor-faktor yang mempengaruhi mereka, sebagai lawan dari analisis mungkin penentu sejarah. Penekanan pada faktor-faktor tertentu yang mempengaruhi fungsi ini dan faktor-faktor apa yang dapat digunakan untuk memodifikasi kinerja. Pada saat pemahaman masa lalu mungkin menawarkan informasi yang berguna tentang peristiwa lingkungan yang terkait dengan menghadirkan perilaku. Perilaku terapis melihat ke peristiwa lingkungan saat ini yang menjaga masalah perilaku dan membantu klien menghasilkan perubahan perilaku dengan mengubah peristiwa lingkungan, melalui proses yang disebut penilaian fungsional, atau apa Wolpe (1990) disebut sebagai “analisis perilaku.”
  3. Klien yang terlibat dalam terapi perilaku diharapkan untuk mengasumsikan peran aktif dengan terlibat dalam tindakan khusus untuk menangani masalah mereka. Bukan hanya berbicara tentang kondisi mereka, mereka diminta untuk melakukan sesuatu untuk membawa perubahan. Klien memonitor perilaku mereka selama dan di luar sesi terapi, belajar dan berlatih keterampilan coping, dan peran-bermain perilaku baru. Tugas terapi yang klien lakukan dalam kehidupan sehari-hari, atau pekerjaan rumah, adalah bagian dasar dari pendekatan ini. Terapi perilaku adalah tindakan yang berorientasi dan pendekatan pendidikan, dan pembelajaran dipandang sebagai inti dari terapi. Klien belajar perilaku baru dan adaptif untuk menggantikan perilaku lama dan maladaptif.
  4. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa perubahan dapat terjadi tanpa wawasan dinamika yang mendasari. Perilaku terapis beroperasi pada premis bahwa perubahan perilaku dapat terjadi sebelum atau bersamaan dengan pemahaman diri sendiri, dan bahwa perubahan perilaku baik dapat menyebabkan peningkatan tingkat pemahaman diri. Meskipun benar bahwa wawasan dan pemahaman tentang kontinjensi yang memperburuk masalah seseorang dapat menyediakan motivasi untuk berubah, mengetahui salah satu yang memiliki masalah dan mengetahui bagaimana mengubahnya adalah dua hal yang berbeda (Martell, 2007).
  5. Fokusnya adalah pada penilaian perilaku terbuka dan terselubung langsung, mengidentifikasi masalah, dan mengevaluasi perubahan. Ada penilaian langsung dari masalah sasaran melalui observasi atau pemantauan diri. Terapis juga menilai budaya klien sebagai bagian dari lingkungan sosial mereka, termasuk jaringan dukungan sosial yang berkaitan dengan perilaku target  (Tanaka-Matsumi, Higginbotham, & Chang, 2002). Penting untuk pendekatan perilaku adalah penilaian hati-hati dan evaluasi intervensi digunakan untuk menentukan apakah perubahan perilaku yang dihasilkan dari prosedur.
  6. Intervensi pengobatan perilaku secara individual disesuaikan dengan masalah spesifik yang dialami oleh klien. Beberapa teknik terapi dapat digunakan untuk mengobati masalah klien individu. Pertanyaan penting yang berfungsi sebagai panduan untuk pilihan ini adalah: “Apa pengobatannya, oleh siapa, adalah yang paling efektif untuk orang dengan masalah tertentu dan di mana mengatur keadaan” (Paul, 1967, p 111.).

 

 

 

  1. Tujuan Konseling

Ada beberapa kesalah pahaman yang menyangkut masalah tentang tujuan-tujuan dalam terapi tingkah laku. Salah satu kesalahpahaman yang umum adalah bahwa tujuan terapi semata-mata menghilangkan gejala-gejala suatu gangguan tingkah laku dan bahwa setelah gejala-gejala itu terhapus, gejala-gejala baru akan muncul karena penyebab-penyebab yang mendasarinya tidak ditangani.

Krumboltz dan Thorensen (dikutip dari Huber & Milman, 1972, hlm. 374) telah mengembangkan tiga kriteria bagi perumusan tujuan yang bisa diterima dalam konseling tingkah laku sebagai berikut: (1) Tujuan yang dirumuskan haruslah tujuan yang diinginkan oleh individu, (2) konselor harus bersedia membantu individu dalam mencapai tujuan, (3) harus terdapat kemungkinan untuk menaksir sejauh mana individu bisa mencapai tujuannya.

 

  1. Fungsi dan Peran Konselor

Terapis tingkah laku harus memainkan peran aktif dan direktif dalam pemberian treatment, yakni terapis menerapkan pengetahuan ilmiah pada pencarian pemecahan masalah-masalah manusia. Terapis tingkah laku berfungsi sebagai guru, pengarah, dan ahli dalam mendiagnosis tingkah laku yang maladaptif dan dalam menentukan prosedur-prosedur penyembuhan yang diharapkan, mengarah pada tingkah laku yang baru dan adjustive.

Menurut Goodstein (hlm. 274), “peran konselor adalah menunjang perkembangan tingkah laku yang secara sosial layak dengan secara sistematis memperkuat jenis tingkah laku individu semacam itu”. Goodstein menyatakan bahwa peran mengendalikan tingkah laku individu yang dimainkan oleh terapis melalui perkuatan menjangkau situasi di luar konseling serta dimasukkan ke dalam tingkah laku individu dalam dunia nyata.

Marquis (1974), yang menggunakan prinsip-prinsip pendekatan behavioral untuk menunjang perubahan kepribadian yang efektif, memandang perlunya peran aktif individu dalam proses terapi. Melalui program terapi tingkah laku, Marquis menguraikan program tiga fase yang melibatkan partisipasi individu secara penuh dan aktif.

Pertama, tingkah laku individu sekarang dianalisis dan pemahaman yang jelas menjangkau tingkah laku akhir dengan partisipasi aktif dari individu dalam setiap bagian dari proses pemasangan tujuan-tujuan.

Kedua, cara-cara alternatif yang biasa diambil oleh individu dalam upaya mencapai tujuan-tujuan, dieksplorasi.

Ketiga, suatu program treatment direncanakan, yang biasanya berlandaskan langkah-langkah kecil yang bertahap dari tingkah laku individu yang sekarang menuju tingkah laku yang diharapkan membantu individu dalam mencapai tujuannya.

Satu aspek yang penting dari peran individu dalam terapi tingkah laku adalah individu didorong untuk bereksperimen dengan tingkah laku baru dengan maksud memperluas perbendaharaan tingkah laku adaptifnya.

 

  1. Pengalaman konseli dalam proses konseling

Terapis dan klien telah jelas perannya, dan pentingnya kesadaran klien dan partisipasi dalam proses terapi lebih ditekankan. Terapi perilaku ditandai dengan peran aktif untuk terapis dan klien. Sebagian besar peran terapis adalah untuk mengajarkan keterampilan beton melalui pemberian instruksi, pemodelan, dan umpan balik kinerja. Klien terlibat dalam latihan perilaku dengan umpan balik, sampai keterampilan yang dipelajari menjadi baik.

Martell (2007) menekankan bahwa perubahan klien membuat terapi harus diterapkan ke dalam kehidupan sehari-hari mereka. Klien harus termotivasi untuk berubah dan diharapkan untuk bekerja sama dalam melaksanakan kegiatan terapi, baik selama sesi terapi dan dalam kehidupan sehari-hari. Jika klien tidak terlibat dengan cara ini, kemungkinan tipis bahwa terapi akan berhasil. Namun, jika klien tidak termotivasi, strategi perilaku lain yang memiliki cukup dukungan empiris adalah wawancara motivasi.

Strategi ini melibatkan resistensi klien sedemikian rupa bahwa motivasinya untuk berubah menjadi meningkat dari waktu ke waktu (Cormier et al., 2009). Klien didorong untuk bereksperimen untuk tujuan memperbesar repertoar mereka dari perilaku adaptif. Konseling tidak lengkap jika tidak diikuti tindakan nyata. Memang, transfer perubahan terbuat dari sesi ke kehidupan sehari-hari dan ketika efek terapi yang melampaui terminasi kemudian pengobatan dapat dianggap sukses (Granvold & Wodarski, 1994). Klien dan terapis sadar mengenai kapan tujuan telah dicapai dan sangat tepat untuk mengakhiri pengobatan. Hal ini jelas bahwa klien diharapkan untuk melakukan lebih dari sekedar mengumpulkan wawasan; mereka harus bersedia untuk membuat perubahan dan untuk terus menerapkan perilaku baru setelah pengobatan resmi telah berakhir.

 

  1. Hubungan konselor dengan konseli

Bukti klinis dan penelitian menunjukkan bahwa hubungan terapeutik, bahkan dalam konteks orientasi perilaku, dapat memberikan kontribusi yang signifikan untuk proses perubahan perilaku (Granvold & Wodarski, 1994). Kebanyakan praktisi perilaku menekankan nilai membangun hubungan kerja yang kolaboratif (J. Beck, 2005). Misalnya, Lazarus (2008) berpendapat repertoar fleksibel gaya hubungan, ditambah berbagai teknik, meningkatkan hasil pengobatan.

Dia menekankan perlunya fleksibilitas terapi dan fleksibilitas di atas segalanya. Lazarus berpendapat bahwa irama interaksi klien-terapis berbeda dari individu ke individu dan bahkan dari sesi ke sesi. Keterampilan terapis dikonsep sesuai masalah dan memanfaatkan hubungan klien-terapis untuk memfasilitasi perubahan.

Seperti yang Anda ingat, terapi pengalaman (terapi eksistensial, terapi orang berpusat, dan terapi Gestalt) menempatkan penekanan utama pada sifat keterlibatan antara konselor dan klien. Sebaliknya, sebagian besar praktisi perilaku berpendapat bahwa faktor-faktor seperti kehangatan, empati, keaslian, permisif, dan penerimaan diperlukan, tetapi tidak cukup, untuk perubahan perilaku terjadi. Hubungan klien-terapis adalah fondasi dimana strategi terapi yang dibangun untuk membantu klien mengubah arah yang mereka inginkan. Namun, perilaku terapis menganggap bahwa klien membuat kemajuan terutama karena teknik perilaku yang spesifik yang digunakan bukan karena hubungan dengan terapis.

 

  1. Teknik-teknik dan prosedur konseling

Desensitisasi Sistematik

Desesnsitisasi sistematik digunakan untk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negatif, dan ia menyertakan pemunculan tingkah laku atau respons yang berlawanan dengan tingkah laku yang hendak dihapuskan itu. Desensitisasi diarahkan pada mengajar konseli untuk menampilkan suatu respons yang tidak konsisten dengan kecemasan.

Wolpe (1958, 1969) pengembang teknik desensitisasi mengajukan argumen bahwa segenap tingkah laku neurotik adalah ungkapan dari kecemasan dan bahwa respons kecemasan bisa dihapus oleh penemuan respons-respons yang secara inhern berlawanan dengan respons tersebut. Dengan pengondisian klasik, kekuatan stimulus penghasil kecemasan bisa dilemahkan dan gejala kecemasan bisa dikendalikan dan dihapus melalui penggantian stimulus.

Desensitisasi sistematik melibatkan teknik-teknik relaksasi. Konseli dilatih untuk santai dan mengasosiasikan keadaan santai dengan pengalaman-pengalaman pembangkit kecemasan yang dibayangkan atau yang divisualisasi. Dalam teknik ini, Wolpe telah mengembangkan suatu respons, yakni relaksasi, yang secara fisiologis bertentangan dengan kecemasan yang secara sistematis diasosiasikan dengan aspek-aspek dari situasi yang mengancam. Prosedur model pengondisian balik ini adalah sebagai berikut:

  1. Desensitisasi sistematik dimulai dengan suatu analisis tingkah laku atas stimulus-stimulus yang bisa membangkitkan kecemasan dalam suatu wilayah tertentu seperti penolakan, rasa iri, ketidaksetujuan, ataus suatu fobia.
  2. Selama pertemuan-pertemuan terapeutik pertama konseli diberi latihan relaksasi yang terdiri atas kontraksi, dan lambat laun pengenduran otot-otot yang berbeda sampai tercapai suatu keadaan santai penuh
  3. Proses desensitisasi melibatkan keadaan dimana konseli sepenuhnya santai dengan mata tertutup.

 

Terapi implosif dan pembanjiran

Teknik-teknik pembanjiran berlandaskan paradigma mengenai penghapusan eksperimental. Teknik ini terdiri atas pemunculan stimulus berkondisi secara berulang-ulang tanpa pemberian perkuatan.

Prosedur-prosedur penanganan konseli mencakup :

  1. Pencarian stimulus yang memicu gejala-gejala,
  2. Menaksir bagaimana gejala-gejala berkaitan dan membentuk tingkah laku konseli,
  3. Meminta kepada konseli untuk membayangkan sejelas-jelasnya apa yang dijabarkannya tanpa disertai celaan atas kepantasan stuasi yang dihadapinya,
  4. Bergerak semakin dekat kepada ketakutan yang paling kuat yang dialami konseli dan meminta kepadanya untuk membayangkan apa yang paling ingin dihindarinya,
  5. Mengulang prosedur-prosedur tersebut sampai kecemasan tidak lagi muncul dalam diri konseli.

 

Latihan Asertif

Latihan asertif merupakan cara melatih bagaimana individu yang merasa sulit berbicara apa adanya kepada orang lain dapat menyatakan atau menegaskan dirinya tanpa ada maksud untuk merugikan orang lain.

Latihan Asertif membantu bagi orang-orang berikut :

  1. Mereka yang tidak dapat menyatakan kemarahan atau kejengkelan,
  2. Mereka yang sopan berlebihan dan membiarkan orang lain mengambil keuntungan dari padanya,
  3. Mereka yang mempunyai kesulitan untuk mengatakan “tidak”,
  4. Mereka yang sukar menyatakan kecintaan dan respon-respon positif lainnya,
  5. Mereka yang merasa tidak punya hak untuk menyatakan pikiran dan perasaannya.

 

Terapi Aversi

Terapi Aversi merupakan cara bagaimana individu dapat terhindar dari perilaku maladaptif (minum alkohol, ketegantungan pada obat-obatan, judi, fetisme, dll) dengan memberikan rangsangan menolak/ tidak setuju berupa hukuman. Bentuknya bisa dengan kejutan listrik atau ramuan tertentu yang membuat individu merasa mual/ jijik.

Jika hukuman digunakan, maka terdapat kemungkinan terbentuknya efek-efek samping emosional tambahan seperti :

  1. Pengaruh hukuman boleh jadi digeneralisasikan kepada tingkah laku lain yang berkaitan dengan tingkah laku yang dihukum. Jadi, misalkan siswa yang dihukum karena gagal bersaing di sekolahnya bisa jadi dia akan membenci semua pelajaran, sekolah, semua guru, bahkan membenci belajar.
  2. Tingkah laku yang tidak diinginkan akibat dari penghukuman bisa jadi ditekan jika penghukum hadir.
  3. Dapat menarik diri secara berlebihan, jika tidak ada tingkah laku alternatif yang menjadikannya berperilaku baik akibat dari penghukuman yang diberikan.

 

Pengondisian Operan

Pengondisian operan merupakan suatu proses penguatan perilaku operan (penguatan positif/ negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan. Tingkah laku operan merupakan kegiatan yang sering dilakukan dalam kehidupan sehari-hari seperti: membaca, berbicara, berpakaian, makan dengan alat makan, bermain, tersenyum, dsb.

Prinsip kekuatan yang menerangkan pembentukan, pemeliharaan, atau penghapusan pola-pola tingkah laku, merupakan inti dari pengondisian operan.

 

Misalnya:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perkuatan Intermiten

Perkuatan intermiten yaitu teknik pemberian penguatan dengan menjadwal atau tidak terjadwal dalam memberikan penguatannya tersebut. Maksudnya ketika seorang guru/ orang tua memberikan penguatan kepada tingkah laku anaknya tidak harus setiap waktu. Namun ada kalanya berhenti untuk sementara waktu dan menyambungnya lagi pada waktu berikutnya. Tujuan diberikan penguatan ini yaitu untuk mempertahankan suatu tingkah laku individu agar dapat bertahan dan rentan terjadi penghapusan tingkah laku yang telah muncul oleh individu tersebut.

 

Penghapusan 

Apabila suatu respons terus – menerus dibuat tanpa perkuatan , maka respons tersebut cenderung menghilang. Cara untuk menghapus tingkah laku maladaptif adalah menarik perkuatan dari tingkah laku yang maladaptif itu. Wolpe (1969) menekankan bahwa penghentian pemberian perkuatan harus serentak dan penuh. Misalnya , jika seorang anak menunjukkan kebandelan dirumah dan disekolah, orang tua dan guru si anak bisa menghindari pemberian perhatian sebagai cara untuk menghapus kebandelan anak tersebut. Pada saat yang sama perkuatan positif bisa diberikan kepada si anak agar belajar tingkah laku yang diinginkan.

 

 

Modelling

Dalam percontohan, individu mengamati seorang model dan kemudian diperkuat untuk mencoba tingkah laku sang model . Bandura ( 1969 ) menyatakan bahwa belajar yang bisa diperolah melalui pengalaman langsung bisa pula diperolah secara tidak langsung dengan mengamati tingkah laku orang lain berikut konsekuensi – kosekuensinya.

 

Token Economy

Token Economy merupakan salah satu teknik pengubahan perilaku yang dirancang untuk meningkatkan perilaku yang disukai dan mengurangkan perilaku yang tidak disukai dengan menggunakan token (koin). Token Ekonomi merupakan sebuah sistem reinforcement untuk perilaku yang dikelola dan diubah, seseorang mesti dihadiahi/ diberikan penguatan untuk meningkatkan atau mengurangi perilaku yang diinginkan. Selanjutnya token ekonomi digunakan dalam pengubahan perilaku di setting institusional untuk mengatur perilaku individu yang agresif atau tidak dapat diprediksi. Esensi token ekonomi adalah mengajarkan tingkah laku yang tepat dan keterampilan sosial yang dapat dipergunakan dalam suatu lingkungan alamiah.

Misalnya di sebuah Panti Sosial, masing-masing individu boleh mendapatkan 25 sampai 75 token pada hari pertama, sehinggamereka dengan cepat belajar nilai dari token. Kemudian, para individu boleh mendapatkan 15 sampai 30 token per hari. Secara berangsur-angsur mengurangi ketersediaan token (memudar), para individu perlu belajar untuk menampilkan perilaku yang diinginkansecara mandiri, tanpa pengaruh yang tidak wajar akibat penggunaan token. Motif penguat ini akan ditemukan individu secara normal di dalam masyarakat, sepertipujian lisan, yang seharusnya perlu diberikan bersamaan dengan proses pemberian token.

Keuntungan dari token economy adalah bahwa perilaku-perilaku yang ditunjukanindividu dapat dihargai dengan segera, besarnya reward /hadiah adalah sama nilainyauntuk semua individu dalam suatu kelompok, penggunaan dari hukuman (respon costs) lebih sedikit resikonya dibandingkan bentuk-bentuk hukuman yang lain, dan individu dapat belajar ketrampilan-ketrampilan yang berhubungan dengan masa depan.

Kerugian-kerugian yang pantas dipertimbangkan dari token economy termasuk biaya, usaha dan pelatihan karyawan dan manajemen. Beberapa profesional menemukan bahwa token economy bersifat tidak praktis dan memakan waktu.

 

  1. Kontribusi pendekatan konseling behavior

Ledley dan rekan (2005) menyatakan bahwa terapis dapat membantu klien untuk belajar tentang kontingensi yang menjaga pikiran bermasalah dan perilaku dan kemudian mengajari mereka cara untuk membuat perubahan yang mereka inginkan. Teknik seperti bermain peran, perilaku latihan, pembinaan, latihan dipandu, pemodelan, umpan balik dapat dimasukkan dalam setiap terapis tanpa memandang orientasi teoritis. Terapi behavior sangat terlibat dalam kedokteran, geriatri, pediatri, program rehabilitasi dan manajemen stres. Pendekatan ini memberikan kontribusi yang signifikan untuk psikologi kesehatan, terutama dalam membantu orang mempertahankan gaya hidup sehat. Kontribusi utama dari terapi perilaku adalah penekanan pada penelitian dan penilaian dari hasil pengobatan. Terserah praktisi untuk menentukan terapi yang digunakan. Perilaku terapis diuji secara empiris teknik, meyakinkan bahwa klien menerima pengobatan sesuai yang efektif dan relatif singkat.

Kebanyakan penelitian menunjukkan bahwa metode terapi perilaku lebih efektif daripada pengobatan. Selain itu, sejumlah prosedur perilaku saat ini merupakan strategi pengobatan terbaik yang tersedia untuk berbagai spesifik masalah.. Kekuatan lain dari pendekatan perilaku adalah penekanan pada akuntabilitas etis. Perilaku terapis mengatasi masalah etika dengan menyatakan bahwa terapi pada dasarnya merupakan proses pendidikan (Tanaka-Matsumi et al., 2002). Pada awal perilaku terapi dari APY klien belajar tentang sifat konseling, prosedur yang mungkin dipekerjakan em, dan manfaat-manfaat dan risiko. Klien diberi informasi tentang prosedur terapi yang spesifik sesuai untuk masalah tertentu mereka. Sebuah fitur penting dari terapi perilaku melibatkan kolaborasi antara terapis dan klien. Tidak hanya klien memutuskan pada tujuan terapi, tetapi mereka juga berpartisipasi dalam pilihan teknik yang akan digunakan dalam menangani masalah mereka. Dengan informasi ini klien menjadi informasi, sepenuhnya mendapatkan hak pilih mitra dalam usaha terapi.

 

  1. Keterbatasan dan kritik terhadap konseling behavioristik
  2. Terapi tingkah laku tidak menangani penyebab-penyebab, tetapi lebih manangani ke gejala-gejala.
  3. Kadang – kadang dikemukakan bahwa orang – orang yang mencari makna dan mencapai aktualisasi diri tidak banyak dibantu oleh teknik – teknik tingkah laku.
  4. Terapi tingkah laku bisa diterapkan hanya pada kecemasan-kecemasan yang spesifik, fobia-fobia dan masalah-masalah yang terbatas. Satu kritik utama yang diarahkan kepada terapi tingkah laku adalah bahwa terapi tingkah laku difokuskan hampir secara ekslusif pada penanganan gejala–gejala yang tampak dan ditentukan dengan baik seperti fobia–fobia, keadaan–keadaan tegang , gangguan–gangguan bicara, kecanduan obat atau alkohol, dan masalah–masalah seksual .
  5. Teknik – teknik modifikasi tingkah laku cocok digunakan dalam :
  6. Setting eksperimenttal
  7. Usaha – usaha perekayasaan manusia , dan
  8. Situasi – situasi dimana terdapat kekurangan waktu yang akut .
  9. Bahwa teknik-teknik pengondisian akan menjadi terlalu efektif dan bisa digunakan untuk memanipulasi para klien. Pengendalian tingkah laku bisa digunakan untuk kebaikan atau untuk kejahatan
  10. Terapi tingkah laku bisa mengubah tingkah laku, tetapi tidak mengubah perasaan-perasaan. Titik pandang behavioris adalah bahwa jika seseorang mampu mengubah tingkah laku orang lain, maka dia menjadi agen yang efektif pula dalam mengubah perasaan-perasaan. Bukti empiris tidak mendukung pernyataan bahwa perasaan-perasaan harus terlebih dahulu berubah sebelum pengubahan tingkah laku dirubah.
  11. Terapi tingkah laku mengabaikan pentingnya hubungan terapis klien terapi. Terapi tingkah laku akan lebih efektif apabila terdapat kerja sama dan hubungan kerja, yakni terapis dan klien bekerja kearah tujuan yang sama, tujuan klien.
  12. Terapi tingkah laku menyajikan pemahaman. Jika tujuan pemahaman pada akhirnya adalah perubahan tingkah laku, maka modifikasi tingkah laku yang telah menunjukan hasil-hasil memiliki pengaruh yang sama dengan pemahaman.

 

  1. Latihan mendiskripsikan kasus menggunakan pendekatan konseling behavioristik

Dalam kasus Stan banyak masalah tertentu yang saling terkait dan dapat diidentifikasi melalui penilaian fungsional. Perilakunya, menghindari kontak mata, berbicara dengan ragu-ragu, penggunaan alkohol berlebihan, memiliki pola tidur yang buruk, dan menampilkan berbagai perilaku menghindar. Dalam wilayah emosional , Stan memiliki sejumlah masalah tertentu, beberapa di antaranya termasuk kecemasan, serangan panik, depresi, ketakutan kritik dan penolakan, merasa tidak berharga dan bodoh, dan merasa terisolasi dan terasing. Dia mengalami berbagai keluhan fisiologis seperti pusing, jantung berdebar-debar, dan sakit kepala. Kognitif, ia khawatir tentang kematian dan sekarat, memiliki banyak pikiran dan keyakinan diri sendiri, diatur oleh imperatif kategoris (“Keharusan,” “hendaknya,” “keharusan”), terlibat dalam berpikir fatalistik, dan membandingkan dirinya dengan hal negatif lain. Di daerah interpersonal, Stan tidak tegas, memiliki hubungan yang tidak memuaskan dengan orang tuanya, memiliki beberapa teman, takut kontak dengan wanita dan ketakutan keintiman, dan merasa rendah diri secara sosial. Setelah menyelesaikan penilaian ini, terapis Stan berfokus pada membantu dia menentukan daerah-daerah tertentu di mana ia ingin membuat perubahan. Sebelum mengembangkan rencana perawatan, terapis membantu Stan memahami tujuan perilakunya. Terapis kemudian mendidik Stan tentang bagaimana sesi terapi (dan bekerja di luar sesi) dapat membantu dia mencapai tujuannya. Awal selama pengobatan terapis membantu Stan menerjemahkan beberapa tujuan umum nya menjadi lebih konkret dan terukur. Ketika Stan mengatakan “Saya ingin merasa lebih baik tentang diriku sendiri, “terapis membantu dia menentukan tujuan yang lebih spesifik. Ketika ia mengatakan “Saya ingin menyingkirkan inferioritas kompleks saya, “dia menjawab:” Apa beberapa situasi di mana Anda merasa rendah diri “” Apa yang Anda benar-benar lakukan yang mengarah ke perasaan rendah diri? “tujuan konkret Stan termasuk keinginannya untuk berfungsi tanpa obat-obatan atau alkohol. Dia meminta untuk mencatat ketika dia minum dan apa peristiwa menyebabkan minum. Stan menunjukkan bahwa dia tidak ingin merasa menyesal untuk keberadaannya.

Terapis memperkenalkan perilaku pelatihan keterampilan karena ia memiliki kesulitan berbicara dengan bos dan rekan-rekan kerjanya. Dia menunjukkan keterampilan khusus yang ia dapat digunakan dalam mendekati mereka lebih langsung dan percaya diri. Prosedur ini mencakup modeling, bermain peran, dan perilaku latihan. Dia kemudian mencoba perilaku yang lebih efektif dengan terapis nya, yang memainkan peran bos dan kemudian memberikan umpan balik tentang seberapa kuat atau menyesalnya tampak.

Kecemasan Stan tentang wanita juga dapat dieksplorasi menggunakan perilaku latihan. Terapis memainkan peran seorang wanita Stan ingin bertemu. Ia berlatih mencari cara dia menentukan tanggal dan mengatakan hal kepada terapis bahwa ia mungkin takut untuk mengatakan kepada teman kencannya. Selama latihan ini, Stan dapat menjelajahi ketakutannya, mendapatkan umpan balik tentang efek perilaku, dan bereksperimen dengan perilaku lebih tegas.

Dalam paparan vivo, dalam bekerja dengan ketakutan Stan gagal. Sebelum menggunakan paparan vivo, terapis yang pertama menjelaskan prosedur untuk Stan dan mendapat persetujuannya. Untuk membuat kesiapan untuk paparan, ia pertama kali belajar prosedur relaksasi selama sesi dan kemudian praktek mereka sehari-hari di rumah. Berikutnya, dia daftar ketakutan yang khusus berkaitan dengan kegagalan, dan ia kemudian menghasilkan hirarki item ketakutan.

Stan mengidentifikasi ketakutan terbesar sebagai impotensi seksual dengan seorang wanita. Situasi menakutkan setidaknya ia mengidentifikasi dengan menjadi mahasiswi kepada siapa ia tidak merasa tertarik. Terapis pertama melakukan beberapa desensitisasi sistematis pada hirarki Stan sebelum pindah ke paparan in vivo. Stan mulai diulang, paparan sistematis untuk item yang ia temui yang menakutkan, dimulai di bagian bawah hirarki ketakutan. Dia melanjutkan dengan paparan berulang untuk takut barang hirarki berikutnya ketika paparan item sebelumnya menghasilkan rasa takut hanya ringan. Bagian dari proses melibatkan latihan eksposur untuk praktek dalam berbagai situasi jauh dari kantor terapi.

Tujuan terapi adalah untuk membantu Stan memodifikasi perilaku yang menghasilkan perasaan bersalah dan kecemasan. Oleh belajar perilaku koping yang lebih tepat, menghilangkan kecemasan realistis dan rasa bersalah, dan memperoleh lebih tanggapan adaptif, gejala menyajikan Stan menurun, dan dia melaporkan tingkat kepuasan yang lebih besar.

 

 

Daftar Pustaka

 

Komalasari, Gantina, dkk. 2011. Teori dan Teknik Konseling. Jakarta: PT Indeks.

 

Corey, Gerald. 2009. Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy, Eight Edition. USA: Thomson.

Expressive Writing sebagai Teknik Bimbingan, Media Konseling, dan Teknik Psikoterapi

January 1st, 2016

Awal mula perkembangan terapi melalui tulisan adalah dimulai dari praktek  klinis di mana menulis merupakan salah satu bentuk terapi penyembuhan pasien atau klien. Beberapa psikiater, psikolog dan konselor dari berbagai aliran misalnya psikologi dalam atau psikoanalisis serta  rasional emotif menerapkan terapi menulis terhadap kliennya. Menurut Riordan (1996) pada abad 18 setelah Masehi, klinisi medis Benyamin Rush meminta pasiennya untuk menuliskan gejala yang dirasakan dan menemukan bahwa proses menulis tersebut mampu meredakan ketegangan pasien dan memberi lebih banyak informasi mengenai permasalahan yang dialami si pasien. Gordon Allport psikolog dari aliran trait adalah orang yang pertama kali menulis mengenai berbagai keuntungan dalam menerapkan menulis sebagai salah satu bentuk terapi pada klien.

Menulis bisa menjadi salah satu teknik bimbingan, media konseling dan juga teknik dalam psikoterapi. Di Barat, telah berkembang berbagai istilah yaitu: theraupetic letter writing, expressive writing, therapeutic writing, scriptotherapy, dan dikaitkan dengan narrative therapy serta Morita therapy (White dan Murray, 2002; Soper dan Bergen, 2001; Felthan, 2000; Adams, 1999; Riordan, 1996). Fenomena perkembangan konseling melalui tulisan juga cukup pesat baik di barat maupun di Indonesia karena secara fleksibel mampu mengikuti perkembangan teknologi seperti therap e-mail  atau e-counseling (Oliver dkk, 2007; Murphy dan Mitchell, 1998) yaitu konseling melalui korespondensi lewat email.

 

  1. Menulis Sebagai Teknik Bimbingan di Kelas

Menulis ekspresif bisa dijadikan sebagai teknik dalam kegiatan bimbingan di kelas secara in-door maupun out-door. Konselor sekolah bisa mengambil berbagai obyek untuk dijadikan bahan tulisan bagi siswa di tingkat SD, SMP, SMA, PT atau sederajat. Bentuknya bisa berupa menulis apapun, puisi, diari, scrap-book, menulis cerita, mengubah lagu, dan sebagainya.

Menulis secara individual, contohnya: misalnya siswa diminta untuk menceritakan dirinya “Who Am I”,  menceritakan mimpi-mimpinya  “My Dream”, membayangkan dan menulis dirinya di masa depan, dll. Atau siswa diajak keluar kelas dan kemudian menulis mengenai berbagai obyek yang menarik dan berhubungan dengan apa yang dirasakannya sekarang: misalnya tentang pohon, sungai, awan, binatang, sekolahnya, dsbnya.

Menulis bisa juga secara kelompok, yaitu siswa dibuat berkelompok 3-5 orang kemudian mereka mendiskusikan berbagai ide yang ingin mereka tulis untuk dijadikan satu tulisan atau mereka menulis dalam satu kertas yang membentuk suatu kesatuan ide. Inti dari menulis secara kelompok adalah untuk meningkatkan kerjasama, berbagi ide, perasaan dan menghargai satu sama lain.

Kegiatan ini bisa dipadukan dengan teknik lain seperti: menggambar, bercerita, musik, bercerita, drama, fotografi sehingga membuat siswa makin bersemangat untuk menulis dan mengekspresikan perasaannya. Tujuan akhir yang ingin dicapai adalah anak secara bebas bisa mengekspresikan perasaannya, meningkatkan kepercayaan diri, meningkatkan kemampuan refleksi diri, meningkatkan ketrampilan menulis, membuat anak menjadi lebih terbuka, spontan dan menerima dirinya apa adanya.

 

 

  1. Menulis Sebagai Media Konseling

Konseling melalui tulisan meliputi berbagai ragam, cara dan gaya serta berbagai teknik. Tipe-tipe konseling melalui tulisan menurut White dan Murray (2002) adalah:

  1. Surat menyurat antara konselor dan Konseli yang mungkin merupakan bagian utama dari proses konseling atau bagian lanjutan dari konseling tatap muka.
  2. Surat dari Konselor Kepada Konseli
    1. Surat Undangan bertujuan untuk meningkatkan partisipasi dan keterlibatan klien dalam konseling.
    2. Surat dengan maksud khusus adalah ketika klien menghadapi situasi berulang terkait dengan permasalahannya (misalnya : hari kematian pasangan hidup, hari ulangtahun) maka konselor mengirim semacam refleksi untuk direnungkan klien.
    3. Surat Referensi, digunakan ketika klien mencapai kemajuan tapi belum menyadari atau belum yakin dengan perubahannya sehingga konselor menguatkan dengan mengirim referensi.

 

 

  1. Surat dari Konseli Untuk Dirinya Sendiri
    1. Surat yang berasal dari dirinya sendiri tujuannya untuk menantang klien berpikir kontra dari pemikiran sebelumnya sehingga mampu memisahkan diri dari masalah dan melihat masalah dengan cara berbeda.
    2. Surat yang berasal dari dirinya sendiri yang ada di masa depan adalah untuk menantang klien berpikir ke masa depan sehingga muncul harapan baru dan berusaha keluar dari rasa tidak berdayanya (hopelessness)

Selain melalui surat menyurat konvensional, menulis sebagai media konseling juga berkembang pesat yaitu e-counseling, yaitu konseling melalui media internet dengan media tulisan sebagai pengganti tatap muka antara konselor dan konseli. Media yang digunakan bisa email, facebook, sms melalui hp, dan sebagainya. Contohnya seperti berikut ini:

Dear curhat,

Namaku Anin, 17 tahun. Aku baru putus dengan pacarku yang satu kelas. Sekarang ini aku merasa sangat sedih ketika di sekolah. Soalnya, aku selalu ketemu mantan pacarku. Bagaimana cara mengatasi hal ini? Dan gimana cara cepat dapat pacar lagi supaya dapat melupakan mantan pacarku itu?    (Anin, Pontianak)

 

Jawaban yang diberikan oleh si psikolog adalah :

 

Dear Anin manis,

Langkah cepat untuk melupakan pacar  adalah membuat daftar:

  1. Berbagai keuntungan karena putus dari dia
  2. Kerugian-kerugian yang kamu tanggung jika menyesali putus dari dia
  3. Berbagai hal yang harus dilakukan untuk masa depanmu
  4. Prioritas utama yang harus kamu lakukan untuk persiapan hidupmu 5 tahun mendatang

Jadi dengan hal seperti itu kamu bisa cepat melupakan pacar dan gak harus dengan punya pacar baru.

 

Menulis sebagai media konseling bisa diterapkan dalam proses konseling individual maupun konseling kelompok. Misalnya : konseli yang kesulitan menyatakan perasaannya bisa diminta untuk menuliskan perasaannya tersebut ke dalam tulisan. Konselor kemudian mengeksporasi berbagai hal menarik yang ditemukan dalam tulisan untuk kemudian menjadi bahan dalam percakapan konseling. Kegiatan konseling kelompok juga bisa diselingi menulis serta menceritakan tulisannya kemudian anggota yang lain memberi tanggapan terhadap tulisan tersebut, atau kelompok membuat karya tulis bersama mengenai problem yang sedang mereka hadapi.

 

  1. Menulis Sebagai Teknik Dalam Psikoterapi

Kathleen Adam (1999) mengemukakan berbagai istilah terkait dengan proses dalam terapi melalui menulis, yaitu antara lain:

  • Journal therapy (terapi jurnal): katarsis dan refleksi secara mendalam dan penuh tujuan sebagai tujuan terapeutik melalui proses atau integrasi dalam menulis. Istilah jurnal dan diari sering dipertukarkan, padahal perbedaannya adalah jurnal lebih bersifat curahan perasaan yang terdalam lebih focus dan lebih reflektif sementara diari bersifat lebih dangkal dan merupakan catatan perasaan terhadap peristiwa dan kegiatan yang dilakukan sehari-hari.
  • Therapeutic writing (terapi menulis): partisipasi terus menerus dan observasi perjalanan hidup yang telah dialami, trauma, hikmah, pertanyaan, kekecewaan, rasa senang untuk mendorong timbulnya pemahaman, insight, penerimaan dan pertumbuhan diri.
  • Chatartic writing (menulis katarsis): berfokus pada ekspresi kesadaran afeksi yang tinggi dan eksternalisasi perasaan dalam bahasa dan tulisan
  • Reflective Writing (menulis refleksi), meningkatkan pengamatan diri, meningkatkan kesadaran adanya ketidaksinambungan pikiran dengan tubuh, internal dg eksternal, pikiran dengan perasaan atau harapan dengan hasil.

Expressive Writing ini dapat diterapkan pada anak-anak, remaja, orang dewasa, pasangan suami istri, individual maupun kelompok (White dan Murray; 2002). Manfaatnya antara lain:

  • Mengeksternalisasi masalah sehingga klien dapat mengekspresikan emosinya secara tepat, memisahkan masalah dari diri, mengurangi munculnya gejala-gejala negatif akibat timbulnya masalah (pusing, sakit perut, dll), meningkatkan insight, dan meningkatkan pemberdayaan diri (Keling dan Bermudez, 2006).
  • Meningkatkan motivasi untuk berubah (Tubman, dkk: 2001) meskipun dalam situasi krisis atau darurat baik secara individual maupun kelompok. Penelitian Tubman dkk menunjukkan konseling melalui tulisan dapat diterapkan untuk penanganan pasien kasus gawat darurat (crisis intervention) misalnya: klien yang mencoba bunuh diri, atau menjadi korban dari kekerasan orang lain. Tujuan konseling adalah sebagai cara untuk menyediakan cermin tantangan untuk meningkatkan motivasi guna menyesuaikan diri dengan perilaku baru dan mencari cara yang tepat untuk berubah paska perawatan.  Konseling mampu meningkatkan kesadaran diri, menurunkan rasa bertahan, meningkatkan pengambilan keputusan dan efikasi diri dan mengurangi keragu-raguan klien.
  • Mengurangi rasa frustrasi karena keinginan yang tak terpenuhi atau tidak tercapai (Soper dan Bergen, 2001). Bagi klien yang patah hati, kehilangan pekerjaan, remaja yang sedih karena orang tua bercerai atau suami dan istri yang baru bercerai atau kematian pasangan hidupnya dapat mencurahkan perasaan negatifnya melalui tulisan. Penelitian  Soper dan Bergen (2001) menunjukkan konseling melalui tulisan bermanfaat untuk memverbalkan emosi negatif, menghilangkan pikiran irasional, sebagai katarsis yang melegakan, meredakan perasaan yang tadinya berkecamuk.

 

 

DAFTAR PUSTAKA :

 

Adams, Kathleen. 1999. Writing as therapy. Counseling and Human Development; Jan ; 31, 5; ProQuest Education Journals. pg. 1

Anonymous. 2001. Understanding Narrative Therapy: A Guidebook for the Social Worker. Journal of Social Work Education; Spring/Summer; 37, 2; ProQuest Education Journals. pg. 399

Choate, L.H. (2007). Counseling Adolescent Girls for Body Image Resilience: Strategi for School Counselors. Profesional School Counseling. Alexandria: Feb 2007. Vol. 10, Iss. 3; pg. 317, 10 pgs. Diakses melalui Feb 2007. Vol. 10, Iss. 3; pg. 317, 10 pgs.

Fagan, R. (2006). Counseling and Treating Adolescents with Alcohol and Other Substance Use Problems and their Family. The Family Journal: Counseling therapy For Couples and Families. Vol.14. No.4.326-333.

Feltham, Colin. 2000. The Therapeutic Potential of Creative Writing: Writing Myself. British Journal of Guidance & Counselling; Feb; 28, 1; ProQuest Education Journals. pg. 138

Guterman, Jeffrey, dan Rudes, James. 2005. A Narrative Approach to Strategic Eclecticism. Journal of Mental Health Counseling; Jan; 27, 1; ProQuest Education Journals. pg. 1

http://www.uk.sagepub.com/books/Book232142

Keeling, Margaret L; dan Bermudez, Maria. 2006.  Externalizing Problems Through Art And Writing: Experiences Of Process. Journal of Marital and Family Therapy; Oct; 32, 4; ProQuest Education Journals. pg. 405

Murphy, Lawrence J, Mitchell, Dan L. (1998)  When Writing Helps to Heal:  E-mail as Therapy  British Journal of Guidance and Counselling, 26, 1. 12-21

Murphy, Lawrence J; dan Mitchel, Dan L.1998. When writing helps to heal: E-mail as therapy. British Journal of Guidance & Counselling; Feb; 26, 1; ProQuest Education Journals. pg. 21

Oliver, Marvarene; Nelson, Kaye W;  Cade, Rochelle; dan Cueva, Catherine. 2007.  Therapeutic Letter Writing from School Counselors to Students, Parents, and Teacher. Professional School Counseling; Jun; 10, 5; ProQuest Education Journals pg. 510

Teori Belajar dan Aplikasinya dalam Pembelajaran

January 1st, 2016

Teori Konstruktivistik

Teori konstruktivistik merupakan pengembangan lebih lanjut dari gestalt. Teori ini sangat percaya bahwa siswa mampu mencari sendiri masalah, menyusun sendiri pengetahuannya melalui kemampuan berpikir dan tantangan yang dihadapinya, menyelesaikan dan membuat konsep mengenai keseluruhan pengalaman realistik dan teori dalam satu bangunan utuh.

  1. John Dewey (1856-1952)

Lahir di Burlington, Vermont, AS. Ia meraih PhD dari Krieger School of Arts & Sciences di Universitas Johns Hopkins University tahun 1884. Ia seorang filosof, psikolog, dan pembaharu pendidikan berkebangsaan Amerika, pengaruhnya sangat kuat di negaranya serta meluas ke berbagai belahan dunia termasuk Indonesia yang menggunakan konsep das sein dan das sollen sebagai dasar berpikir pembuatan skripsi sarjana. Ia dinobatkan sebagai pelopor filosofi pragmatisme, psikologi fungsionalisme dan gerakan progresif di bidang pendidikan AS.

Tulisan-tulisannya diantaranya adalah The Reflex Arc Concept in Psychology (1896) sebuah kritik terhadap konsep baku yang ada dalam psikologi dan menjadi dasar dalam pemikirannya lebih lanjut, Human Nature and Conduct (1922), studi terhadap kebiasaan perilaku manusia, A Common Faith (1983) studi humanistik terhadap agama, Logic: The Theory of Inquiry (1983), pengujian Dewey terhadap konsep tidak biasa terhdap logika, dan Freedom and Culture (1939) pandangan politisnya terhadap akar fasisme.

John Dewey dikenal sebagai Bapak Konstruktivisme. Idenya digunakan sebagai dasar metode konstruktivisme dan discovery learning. Menurutnya belajar tergantung pada pengalaman dan minat siswa sendiri, kurikulum seharusnya dapat terintegrasi satu sama lain. Belajar harus bersifat aktif, langsung terlibat, berpusat pada siswa, dalam konteks pengalaman sosial.

Kesadaran sosial merupakan tujuan dari semua pendidikan. Belajar membutuhkan keterlibatan siswa dan kerjasama tim dalam mengerjakan tugas. Guru bertindak sebagai fasilitator. Dewey juga menyarankan penggunaan media teknologi sebagai sarana belajar.

  1. Jean Piaget (1896-1980)

Jean Piaget lahir di Neuchatel (Switzerland) 9 Agustus 1896, dan meninggal di Jenewa 16 September 1980. Ia anak tertua dari Arthur Piaget, seorong profesor sejarah abad pertengahan. Ayahnya sering mengajak Piaget kecil berjalan-jalan menyusuri hutan di pegunungan Alpen, mendiskusikan semua hal yang mereka temui. Latihan inilah yang menjadi dasar ilmiah proses pengamatannya yang cermat, jeli, dan dituangkan dengan bahasa yang ilmiah dan mudah dipahami. Usia 11 tahun artikel tentang pengamatan yang dilakukannya terhadap burung pipit albino berhasil dimuat dikoran. Ia seorang biologis, tetapi penemuannya digunakan dalam psikologi dan menjadi pelopor dalam aspek perkembangan kognitif.

Buku-buku yang disusun Piaget mayoritas berdasarkan hasil pengamatan yang juga dilakukan kepada anak-anaknya sendiri. Ide Piaget digunakan untuk merancang kurikulum TK dan SD atau tontonan televisi terkenal untuk pendidikan anak seperti Sesame Street, Dora dan Blue Clues.

Menurut Piaget, pengamatan sangat penting dan menjadi dasar dalam menuntun proses berpikir anak, berbeda dengan melihat yang hanya melibatkan mata, pengamatan melibatkan seluruh indra. Dalam belajar diupayakan siswa harus mengalami sendiri dan terlibat langsung secara realistik dengan objek yang dipelajarinya, bersifat aktif dan sosial.

Tahap perkembangan berpikir individu menurut Piaget yaitu :

  1. Sensorimotorik (usia 0-2 tahun)
  2. Praoperasional (2-7 tahun)
  3. Operasional Konkrit (7-11 tahun)
  4. Operasional Formal (12-15)

Piaget meyakini bahwa belajar adalah proses regulasi diri dan anak akan menciptakan sendiri sensasi perasaan mereka terhadap realitas. Pikiran manusia mempunyai struktur/skema yang disebut struktur kognitif. Dengan menggunakan skema tersebut seseorang mengadaptasi dan mengoodinasi lingkungannya sehingga terbentuk skema baru melalui proses asimilasi dan akomodasi, skema yang dihasilkan disebut pengetahuan. Proses belajar terdiri dari 3 tahap yaitu :

  1. Asimilasi merupakan proses penyatuan/pengintegrasian informasi baru ke struktur kognitif yang telah ada ke dalam benak siswa. Informasi/pengetahuan baru yang sesuai dengan skema kemudian diadaptasi sehingga terbentuk pengetahuan baru. Proses ini merefleksikan perubahan kuantitatif pada skema disebut pertumbuhan.
  2. Akomodasi adalah penyesuaian struktur kognitif pada situasi yang baru. Proses rekonstruksi skema yang sudah ada merupakan akibat adanya informasi dan pengetahuan baru yang tidak langsung dapat diasimilasikan dalam skema yang telah ada. Pada akomodasi terjadi proses belajar yang baru dan merefleksikan perubahan kualitatif pada skema yang disebut perkembangan.
  3. Disequilibrium dan Equilibrium yaitu penyesuaian berkesinabungan antara asimilasi dan akomoasi. Proses akomodasi dimulai ketika pengetahuan yang baru tidak cocok dengan struktur kognitif yang sudah ada maka akan terjadi disequilibrium, kemudian struktur kognitif tersebut direstrukturisasi kembali agar dapat disesuaikan dengan pengetahuan baru atau terjai equilibrium.

Implikasi pandangan Piaget dalam praktik pembelajaran adalah bahwa guru hendaknya menyesuaikan proses pembelajaran yang dilakukan dengan tahapan-tahapan kognitif yang dimiliki anak didik.

  1. Jerome Brunner (1915- )

Profesor Jerume Brunner seorang psikolog berkebangsaan AS banyak memberikan kontribusi pada psikologi kognitif dan teori belajar kognitif pada psikologi pendidikan. Ia memelopori pendekatan penemuan (discovery) dalam pembelajaran matematikan meskipun bukan Ia yang menemukan konsep tersebut.

Menurut Brunner, belajar adalah proses yang bersifat aktif terkait dengan ide discovery learning yaitu siswa berinteraksi dengan lingkungannya melalui eksplorasi dan manipulasi objek, membuat pertanyaan dan menyelenggarakan eksperimen. Teori ini menyatakan bahwa cara terbaik begi seseorang untuk memulai belajar konsep dan prinsip dalam siswa adalah dengan mengonstruksi sendiri konsep dan prinsip yang dipelajari itu, dan hal tersebut perlu dibiasakan sejak anak-anak.

Teorinya yang diadaptasi dari tahapan perkembangan kognitif Piaget mempertajam konsep pendidikan anak usia dini. Brunner mengemukakan bahwa proses belajar ditentukan oleh cara mengatur materi pelajaran dan bukan ditentukan oleh umur. Brunner menjelaskan perkembangan dalam 3 tahap :

  1. Enaktif (0-3 tahun) yaitu pemahaman anak dicapai melalui eksplorasi dirinya sendiri dan manipulasi fisik-motorik melalui pengalaman sensori.
  2. Ikonik (3-8 tahun) anak menyadari sesuatu ada secara mandiri melalui imej atau gambar yang konkrit bukan yang abstrak.
  3. Simbolik (>8 tahun) anak sudah memahami simbol-simbol dan konsep seperti bahasa dan angka sebagai representasi simbol.

Fakyor-faktor yang harus diperhatikan dlam pembelajaran adalah :

  1. Guru harus bertindak sebagai fasilitator, mengecek pengetahuan yang dimiliki siswa sebelumnya, menyediakan sumber-sumber belajar dan menanyakan pertanyaan yang bersifat terbuka.
  2. Siswa membangun pemaknaannya melalui eksplorasi, manipulasi, dan berpikir.
  3. Penggunaan teknologi dalam pengajaran, siswa sebaiknya melihat bagaimana teknologi tersebut bekerja daripada hanya sekedar diceritakan oleh guru.

Teori belajar sangat membebaskan siswa untuk belajar sendiri yang disebut discovery (belajar dengan cara menemukan).

  1. Lev Vygotsky (1896-1934)

Seorang filosof Rusia yang idenya berperan penting dalam memahami budaya, interaksi sosial, dan peranan bahasa dalam perkembangan kognitif. Ia dipengaruhi Pavlov dan beranggapan bahwa perkembangan secara langsung dipengaruhi oleh perkembangan sosial.

Konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Vygotsky, bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. Penemuan dlam belajar lebih mudah dipetoleh dalam konteks sosial budaya seseorang. Inti konstruktivis Vigotsky adalah interaksi antara aspek internal dan eksternal yang penekanannya pada lingkungan sosial dan belajar.

Interaksi sosial dipelajari anak dari orang yang mempunyai kemampuan intelektual yang lebih tinggi dan orang dewasa di sekitarnya. Guru berperan sebagai pengarah atau pemandu kegiatan siswa dan mendorong siswa yang mampu untuk bekerja mandiri.

Pembelajaran berdasarkan scaffolding yaitu memberikan keterampilan penting untuk pemecahan masalah secara mandiri seperti diskusi, praktik langsung, dan memberikan penguatan. Guru yang membantu penuh, secara bertahap justru akan mengurangi pemahaman siswa.

Zone of Proximal Development (ZPD) adalah wilayah dimana anak mampu untuk belajar dengan bantuan orang yang kompeten. Penilaian belajar dilakukan dengan cara cheklist, review teman atau pertanyaan. Penerapan teknologi untuk belajar adalah dengan pemakaian visualisasi, contoh grafis, pengalaman dunia nyata yang terkait dengan kebutuhan siswa.

 

 

Aplikasi Teori Kognitif terhadap Pembelajaran Siswa

            Misi dari pemerolehan pengetahuan melalui strategi pembelajaran kognitif adalah kemampuan memperoleh, menganalisis, dan mengolah informasi dengan cermat serta kemampuan pemecahan masalah. Pembelajaran didesain lebih berpusat pada peserta didik, bersifat analitik, dan lebih berorientasi pada proses pembentukan pengetahuan dan penalaran.

Belajar merupakan proses aktif dari pembelajar untuk membangun pengetahuannya. Proses aktif tidak hanya bersifat secara mental tetapi juga keaktifan secara fisik. Siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimiliki.

Ciri-ciri pembelajaran dalam pandangan kognitif adalah sebagai berikut :
1. Menyediakan pengalaman belajar dengan mengaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengatahuan.

  1. Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar, tidak semua mengerjakan tugas yang sama, misalnya suatu masalah dapat dipecahkan dengan berbagai cara.
  2. Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkrit, misalnya untuk memahami suatu konsep siswa melalui kenyataan kehidupan sehari-hari.
  3. Mengintegrasikan .pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerjasama seseorang dengan orang lain atau dengan lingkungannya, misalnya kerjasama antara siswa dan guru.
  4. Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran lebih efektif.
  5. Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga siswa menjadi menarik dan siswa mau belajar.

 

Tujuan pendidikan menurut teori belajar adalah :

  1. Menghasilkan individu yang memiliki kemampuan berpikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi.
  2. Kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didi. Selain itu, latihan memecahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Peserta didik diharapkan selelu aktif dan dapat menemukan cara belajar yanag sesuai bagi dirinya. Guru berfungsi sebagai mediator, fasilitator, dan teman yang membuat situasi menjadi kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik.

Guru bukan sumber belajar utama dan bukan kepatuhan siswa yang dituntut dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Evaluasi belajar bukan pada hasil tetapi pada proses.

Proses pembelajaran yang tepat untuk teori kognitif antara lain pada pelajaran bahasa seperti mengarang, menganalisis isi buku ; matematika, fisika kimia atau biologi yaitu dengan metode belajar yang berbasis studi kasus, eksperimen, IPS berupa observasi wawancara dan membuat laporannya.

Kelas tidak didominasi oleh guru yang berceramah, tetapi penyediaan modul, tugas, praktikum, sarana audiovisual, ketersediaan buku-buku di perpustakaan, akses internet, diskusi, presentasi dan evaluasi dari teman, serta guru.

 

Teori Belajar Humanistik

            Tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil apabila si pelajar telah memahami dirinya dan lingkungannya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Tujuan utama pendidik ialah membantu siswa umengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi yang ada pada diri individu. Dua bagian penting dari proses belajar adalah :

  1. Proses pemerolehan informasi baru
  2. Personalisasi informasi pada individu
  3. Arthur Combs (1912-1999)

Bersama dengan Donald Snygg (1904-1967) mereka mencurahkan banyak perhatian pada dunia pendidikan. Meaning (makna atau arti) adalah konsep dasar yang sering digunakan. Belajar terjadi apabila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak dapat memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Guru harus memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha mengubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada. Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Yang terpenting ialah bagaimana membawa siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya (Gayne & Briggs)

Combs memberikan lukisan persepsi diri dan dunia seseorang seperti dua lingkaran besar dan kecil yang bertitik pada satu pusat. Lingkaran kecil adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkungan, sedangkan lingkaran besar adalah persepsi dunia.

  1. Maslow

Teori Maslow didasarkan atas asumsi bahwa di dalam individu ada 2 hal yaitu :

  1. Suatu usaha yang positif untuk berkembang
  2. Suatu usaha untuk melawan atau menolak hambatan untuk berkembang

Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hierarkis dari tingkatan terbawah yaitu kebutuhan akan jasmani/fisiologis, keamanan, cinta & memiliki, harga diri, aktualisasi diri, rasa ingin tahu, dan estetika. Apabila seseorang dapat memenuhi kebutuhan pertama yang paling mendasar maka ia dapat menginginkan kebutuhan yang berada di atasnya. Implikasi Maslow dalam pembelajaran bahwa perhatian dan motivasi belajar tidak mungkin berkembang apabila kebutuhan dasar pada siswa belum terpenuhi.

 

 

  1. Carl Rogers

Lahir 12 Januari 1902 di Oak Park, Illinois, Chicago anak keempat dari enam bersaudara. Semula Rogers menekuni bidang agama tapi kemudia pindah pada psikologi. Ia mempelajari psikologi klinis di Universitas Columbia dan mendapat gelar Ph.D tahun 1931. Gelar Profesor diterima di Ohio State tahun 1940. Tahun 1942 Ia menulis buku pertamanya yang berjudul Counseling and Psychotherapy dan secara bertahap mengembangkan konsep Client Centered Therapy.

Rogers membedakan 2 tipe balajar yaitu :

  1. Kognitif (kebermaknaan)
  2. Experiential (pengalaman atau signifikansi)

Guru menghubungkan pengetahuan akademik ke dalam pengetahuan terpakai. Experiential laerning menunjuk pada pmenuhan kebutuhan dan keinginan siswa. Kualitas belajar Experiential learning mencakup keterlibatan siswa secara personal, berisiatif, evaluasi oleh siswa sendiri, dan adanya efek yang membekas pada siwa.

Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memerhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran. Dalam bukunya Freedom to Learn Ia menunjukkan sejumlah prinsip dasar humanistik yang penting diantaranya adalah :

  1. Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami
  2. Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksud sendiri
  3. Belajar yang menyangkut perubahan dalam persepsi mengenai dirinya sendiri dianggap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya
  4. Tugas-tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman-aancaman dari luar tersebut semakin kecil
  5. Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda dan terjadilah proses belajar
  6. Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya
  7. Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggung jawab terhadap proses belajar itu
  8. Belajar atas inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya naik perasaan maupun intelek merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari
  9. Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas, lebih mudah dicapai terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengritik dirinya sendiri dan penilaian dari orang lain merupakan cara kedua yang penting
  10. Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam diri sendiri mengenai proses perubahan itu.

Ciri-ciri guru yang fasilitatif adalah :

  1. Meespon perasaan siswa
  2. Menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang
  3. Berdialog dan berdiskusi dengan siswa
  4. Menghargai siswa
  5. Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan
  6. Menyesuaikan isi kerangka berpikir siswa (penjelasan untuk memantabkan kebutuhan segera dari siswa)
  7. Tersenyum pada siswa.

Aplikasi Teori Humanistik terhadap Pembelajaran Siswa

Aplikasi teori humanistik lebih kepada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah sebagai fasilitator bagi para siswa dengan memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru juga memfasilitasi pengalaman belajar siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.
Siswa berperan sebagai student center yang mamaknai proses belajarnya sendiri, diharapkan siswa dapat memaahami potensi diri, mengembangkan potensi dirinya secara positif, dan meminimalkan potensi diri yang bersifat nega

Teori Belajar dan Aplikasinya dalam Bidang Pendidikan

January 1st, 2016

Teori Konstruktivistik

Teori konstruktivistik merupakan pengembangan lebih lanjut dari gestalt. Teori ini sangat percaya bahwa siswa mampu mencari sendiri masalah, menyusun sendiri pengetahuannya melalui kemampuan berpikir dan tantangan yang dihadapinya, menyelesaikan dan membuat konsep mengenai keseluruhan pengalaman realistik dan teori dalam satu bangunan utuh.

  1. John Dewey (1856-1952)

Lahir di Burlington, Vermont, AS. Ia meraih PhD dari Krieger School of Arts & Sciences di Universitas Johns Hopkins University tahun 1884. Ia seorang filosof, psikolog, dan pembaharu pendidikan berkebangsaan Amerika, pengaruhnya sangat kuat di negaranya serta meluas ke berbagai belahan dunia termasuk Indonesia yang menggunakan konsep das sein dan das sollen sebagai dasar berpikir pembuatan skripsi sarjana. Ia dinobatkan sebagai pelopor filosofi pragmatisme, psikologi fungsionalisme dan gerakan progresif di bidang pendidikan AS.

Tulisan-tulisannya diantaranya adalah The Reflex Arc Concept in Psychology (1896) sebuah kritik terhadap konsep baku yang ada dalam psikologi dan menjadi dasar dalam pemikirannya lebih lanjut, Human Nature and Conduct (1922), studi terhadap kebiasaan perilaku manusia, A Common Faith (1983) studi humanistik terhadap agama, Logic: The Theory of Inquiry (1983), pengujian Dewey terhadap konsep tidak biasa terhdap logika, dan Freedom and Culture (1939) pandangan politisnya terhadap akar fasisme.

John Dewey dikenal sebagai Bapak Konstruktivisme. Idenya digunakan sebagai dasar metode konstruktivisme dan discovery learning. Menurutnya belajar tergantung pada pengalaman dan minat siswa sendiri, kurikulum seharusnya dapat terintegrasi satu sama lain. Belajar harus bersifat aktif, langsung terlibat, berpusat pada siswa, dalam konteks pengalaman sosial.

Kesadaran sosial merupakan tujuan dari semua pendidikan. Belajar membutuhkan keterlibatan siswa dan kerjasama tim dalam mengerjakan tugas. Guru bertindak sebagai fasilitator. Dewey juga menyarankan penggunaan media teknologi sebagai sarana belajar.

  1. Jean Piaget (1896-1980)

Jean Piaget lahir di Neuchatel (Switzerland) 9 Agustus 1896, dan meninggal di Jenewa 16 September 1980. Ia anak tertua dari Arthur Piaget, seorong profesor sejarah abad pertengahan. Ayahnya sering mengajak Piaget kecil berjalan-jalan menyusuri hutan di pegunungan Alpen, mendiskusikan semua hal yang mereka temui. Latihan inilah yang menjadi dasar ilmiah proses pengamatannya yang cermat, jeli, dan dituangkan dengan bahasa yang ilmiah dan mudah dipahami. Usia 11 tahun artikel tentang pengamatan yang dilakukannya terhadap burung pipit albino berhasil dimuat dikoran. Ia seorang biologis, tetapi penemuannya digunakan dalam psikologi dan menjadi pelopor dalam aspek perkembangan kognitif.

Buku-buku yang disusun Piaget mayoritas berdasarkan hasil pengamatan yang juga dilakukan kepada anak-anaknya sendiri. Ide Piaget digunakan untuk merancang kurikulum TK dan SD atau tontonan televisi terkenal untuk pendidikan anak seperti Sesame Street, Dora dan Blue Clues.

Menurut Piaget, pengamatan sangat penting dan menjadi dasar dalam menuntun proses berpikir anak, berbeda dengan melihat yang hanya melibatkan mata, pengamatan melibatkan seluruh indra. Dalam belajar diupayakan siswa harus mengalami sendiri dan terlibat langsung secara realistik dengan objek yang dipelajarinya, bersifat aktif dan sosial.

Tahap perkembangan berpikir individu menurut Piaget yaitu :

  1. Sensorimotorik (usia 0-2 tahun)
  2. Praoperasional (2-7 tahun)
  3. Operasional Konkrit (7-11 tahun)
  4. Operasional Formal (12-15)

Piaget meyakini bahwa belajar adalah proses regulasi diri dan anak akan menciptakan sendiri sensasi perasaan mereka terhadap realitas. Pikiran manusia mempunyai struktur/skema yang disebut struktur kognitif. Dengan menggunakan skema tersebut seseorang mengadaptasi dan mengoodinasi lingkungannya sehingga terbentuk skema baru melalui proses asimilasi dan akomodasi, skema yang dihasilkan disebut pengetahuan. Proses belajar terdiri dari 3 tahap yaitu :

  1. Asimilasi merupakan proses penyatuan/pengintegrasian informasi baru ke struktur kognitif yang telah ada ke dalam benak siswa. Informasi/pengetahuan baru yang sesuai dengan skema kemudian diadaptasi sehingga terbentuk pengetahuan baru. Proses ini merefleksikan perubahan kuantitatif pada skema disebut pertumbuhan.
  2. Akomodasi adalah penyesuaian struktur kognitif pada situasi yang baru. Proses rekonstruksi skema yang sudah ada merupakan akibat adanya informasi dan pengetahuan baru yang tidak langsung dapat diasimilasikan dalam skema yang telah ada. Pada akomodasi terjadi proses belajar yang baru dan merefleksikan perubahan kualitatif pada skema yang disebut perkembangan.
  3. Disequilibrium dan Equilibrium yaitu penyesuaian berkesinabungan antara asimilasi dan akomoasi. Proses akomodasi dimulai ketika pengetahuan yang baru tidak cocok dengan struktur kognitif yang sudah ada maka akan terjadi disequilibrium, kemudian struktur kognitif tersebut direstrukturisasi kembali agar dapat disesuaikan dengan pengetahuan baru atau terjai equilibrium.

Implikasi pandangan Piaget dalam praktik pembelajaran adalah bahwa guru hendaknya menyesuaikan proses pembelajaran yang dilakukan dengan tahapan-tahapan kognitif yang dimiliki anak didik.

  1. Jerome Brunner (1915- )

Profesor Jerume Brunner seorang psikolog berkebangsaan AS banyak memberikan kontribusi pada psikologi kognitif dan teori belajar kognitif pada psikologi pendidikan. Ia memelopori pendekatan penemuan (discovery) dalam pembelajaran matematikan meskipun bukan Ia yang menemukan konsep tersebut.

Menurut Brunner, belajar adalah proses yang bersifat aktif terkait dengan ide discovery learning yaitu siswa berinteraksi dengan lingkungannya melalui eksplorasi dan manipulasi objek, membuat pertanyaan dan menyelenggarakan eksperimen. Teori ini menyatakan bahwa cara terbaik begi seseorang untuk memulai belajar konsep dan prinsip dalam siswa adalah dengan mengonstruksi sendiri konsep dan prinsip yang dipelajari itu, dan hal tersebut perlu dibiasakan sejak anak-anak.

Teorinya yang diadaptasi dari tahapan perkembangan kognitif Piaget mempertajam konsep pendidikan anak usia dini. Brunner mengemukakan bahwa proses belajar ditentukan oleh cara mengatur materi pelajaran dan bukan ditentukan oleh umur. Brunner menjelaskan perkembangan dalam 3 tahap :

  1. Enaktif (0-3 tahun) yaitu pemahaman anak dicapai melalui eksplorasi dirinya sendiri dan manipulasi fisik-motorik melalui pengalaman sensori.
  2. Ikonik (3-8 tahun) anak menyadari sesuatu ada secara mandiri melalui imej atau gambar yang konkrit bukan yang abstrak.
  3. Simbolik (>8 tahun) anak sudah memahami simbol-simbol dan konsep seperti bahasa dan angka sebagai representasi simbol.

Fakyor-faktor yang harus diperhatikan dlam pembelajaran adalah :

  1. Guru harus bertindak sebagai fasilitator, mengecek pengetahuan yang dimiliki siswa sebelumnya, menyediakan sumber-sumber belajar dan menanyakan pertanyaan yang bersifat terbuka.
  2. Siswa membangun pemaknaannya melalui eksplorasi, manipulasi, dan berpikir.
  3. Penggunaan teknologi dalam pengajaran, siswa sebaiknya melihat bagaimana teknologi tersebut bekerja daripada hanya sekedar diceritakan oleh guru.

Teori belajar sangat membebaskan siswa untuk belajar sendiri yang disebut discovery (belajar dengan cara menemukan).

  1. Lev Vygotsky (1896-1934)

Seorang filosof Rusia yang idenya berperan penting dalam memahami budaya, interaksi sosial, dan peranan bahasa dalam perkembangan kognitif. Ia dipengaruhi Pavlov dan beranggapan bahwa perkembangan secara langsung dipengaruhi oleh perkembangan sosial.

Konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Vygotsky, bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. Penemuan dlam belajar lebih mudah dipetoleh dalam konteks sosial budaya seseorang. Inti konstruktivis Vigotsky adalah interaksi antara aspek internal dan eksternal yang penekanannya pada lingkungan sosial dan belajar.

Interaksi sosial dipelajari anak dari orang yang mempunyai kemampuan intelektual yang lebih tinggi dan orang dewasa di sekitarnya. Guru berperan sebagai pengarah atau pemandu kegiatan siswa dan mendorong siswa yang mampu untuk bekerja mandiri.

Pembelajaran berdasarkan scaffolding yaitu memberikan keterampilan penting untuk pemecahan masalah secara mandiri seperti diskusi, praktik langsung, dan memberikan penguatan. Guru yang membantu penuh, secara bertahap justru akan mengurangi pemahaman siswa.

Zone of Proximal Development (ZPD) adalah wilayah dimana anak mampu untuk belajar dengan bantuan orang yang kompeten. Penilaian belajar dilakukan dengan cara cheklist, review teman atau pertanyaan. Penerapan teknologi untuk belajar adalah dengan pemakaian visualisasi, contoh grafis, pengalaman dunia nyata yang terkait dengan kebutuhan siswa.

 

 

Aplikasi Teori Kognitif terhadap Pembelajaran Siswa

            Misi dari pemerolehan pengetahuan melalui strategi pembelajaran kognitif adalah kemampuan memperoleh, menganalisis, dan mengolah informasi dengan cermat serta kemampuan pemecahan masalah. Pembelajaran didesain lebih berpusat pada peserta didik, bersifat analitik, dan lebih berorientasi pada proses pembentukan pengetahuan dan penalaran.

Belajar merupakan proses aktif dari pembelajar untuk membangun pengetahuannya. Proses aktif tidak hanya bersifat secara mental tetapi juga keaktifan secara fisik. Siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimiliki.

Ciri-ciri pembelajaran dalam pandangan kognitif adalah sebagai berikut :
1. Menyediakan pengalaman belajar dengan mengaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengatahuan.

  1. Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar, tidak semua mengerjakan tugas yang sama, misalnya suatu masalah dapat dipecahkan dengan berbagai cara.
  2. Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkrit, misalnya untuk memahami suatu konsep siswa melalui kenyataan kehidupan sehari-hari.
  3. Mengintegrasikan .pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerjasama seseorang dengan orang lain atau dengan lingkungannya, misalnya kerjasama antara siswa dan guru.
  4. Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran lebih efektif.
  5. Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga siswa menjadi menarik dan siswa mau belajar.

 

Tujuan pendidikan menurut teori belajar adalah :

  1. Menghasilkan individu yang memiliki kemampuan berpikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi.
  2. Kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didi. Selain itu, latihan memecahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Peserta didik diharapkan selelu aktif dan dapat menemukan cara belajar yanag sesuai bagi dirinya. Guru berfungsi sebagai mediator, fasilitator, dan teman yang membuat situasi menjadi kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik.

Guru bukan sumber belajar utama dan bukan kepatuhan siswa yang dituntut dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Evaluasi belajar bukan pada hasil tetapi pada proses.

Proses pembelajaran yang tepat untuk teori kognitif antara lain pada pelajaran bahasa seperti mengarang, menganalisis isi buku ; matematika, fisika kimia atau biologi yaitu dengan metode belajar yang berbasis studi kasus, eksperimen, IPS berupa observasi wawancara dan membuat laporannya.

Kelas tidak didominasi oleh guru yang berceramah, tetapi penyediaan modul, tugas, praktikum, sarana audiovisual, ketersediaan buku-buku di perpustakaan, akses internet, diskusi, presentasi dan evaluasi dari teman, serta guru.

 

Teori Belajar Humanistik

            Tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil apabila si pelajar telah memahami dirinya dan lingkungannya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Tujuan utama pendidik ialah membantu siswa umengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi yang ada pada diri individu. Dua bagian penting dari proses belajar adalah :

  1. Proses pemerolehan informasi baru
  2. Personalisasi informasi pada individu
  3. Arthur Combs (1912-1999)

Bersama dengan Donald Snygg (1904-1967) mereka mencurahkan banyak perhatian pada dunia pendidikan. Meaning (makna atau arti) adalah konsep dasar yang sering digunakan. Belajar terjadi apabila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak dapat memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Guru harus memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha mengubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada. Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Yang terpenting ialah bagaimana membawa siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya (Gayne & Briggs)

Combs memberikan lukisan persepsi diri dan dunia seseorang seperti dua lingkaran besar dan kecil yang bertitik pada satu pusat. Lingkaran kecil adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkungan, sedangkan lingkaran besar adalah persepsi dunia.

  1. Maslow

Teori Maslow didasarkan atas asumsi bahwa di dalam individu ada 2 hal yaitu :

  1. Suatu usaha yang positif untuk berkembang
  2. Suatu usaha untuk melawan atau menolak hambatan untuk berkembang

Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hierarkis dari tingkatan terbawah yaitu kebutuhan akan jasmani/fisiologis, keamanan, cinta & memiliki, harga diri, aktualisasi diri, rasa ingin tahu, dan estetika. Apabila seseorang dapat memenuhi kebutuhan pertama yang paling mendasar maka ia dapat menginginkan kebutuhan yang berada di atasnya. Implikasi Maslow dalam pembelajaran bahwa perhatian dan motivasi belajar tidak mungkin berkembang apabila kebutuhan dasar pada siswa belum terpenuhi.

 

 

  1. Carl Rogers

Lahir 12 Januari 1902 di Oak Park, Illinois, Chicago anak keempat dari enam bersaudara. Semula Rogers menekuni bidang agama tapi kemudia pindah pada psikologi. Ia mempelajari psikologi klinis di Universitas Columbia dan mendapat gelar Ph.D tahun 1931. Gelar Profesor diterima di Ohio State tahun 1940. Tahun 1942 Ia menulis buku pertamanya yang berjudul Counseling and Psychotherapy dan secara bertahap mengembangkan konsep Client Centered Therapy.

Rogers membedakan 2 tipe balajar yaitu :

  1. Kognitif (kebermaknaan)
  2. Experiential (pengalaman atau signifikansi)

Guru menghubungkan pengetahuan akademik ke dalam pengetahuan terpakai. Experiential laerning menunjuk pada pmenuhan kebutuhan dan keinginan siswa. Kualitas belajar Experiential learning mencakup keterlibatan siswa secara personal, berisiatif, evaluasi oleh siswa sendiri, dan adanya efek yang membekas pada siwa.

Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memerhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran. Dalam bukunya Freedom to Learn Ia menunjukkan sejumlah prinsip dasar humanistik yang penting diantaranya adalah :

  1. Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami
  2. Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksud sendiri
  3. Belajar yang menyangkut perubahan dalam persepsi mengenai dirinya sendiri dianggap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya
  4. Tugas-tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman-aancaman dari luar tersebut semakin kecil
  5. Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda dan terjadilah proses belajar
  6. Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya
  7. Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggung jawab terhadap proses belajar itu
  8. Belajar atas inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya naik perasaan maupun intelek merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari
  9. Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas, lebih mudah dicapai terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengritik dirinya sendiri dan penilaian dari orang lain merupakan cara kedua yang penting
  10. Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam diri sendiri mengenai proses perubahan itu.

Ciri-ciri guru yang fasilitatif adalah :

  1. Meespon perasaan siswa
  2. Menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang
  3. Berdialog dan berdiskusi dengan siswa
  4. Menghargai siswa
  5. Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan
  6. Menyesuaikan isi kerangka berpikir siswa (penjelasan untuk memantabkan kebutuhan segera dari siswa)
  7. Tersenyum pada siswa.

Aplikasi Teori Humanistik terhadap Pembelajaran Siswa

Aplikasi teori humanistik lebih kepada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah sebagai fasilitator bagi para siswa dengan memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru juga memfasilitasi pengalaman belajar siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.
Siswa berperan sebagai student center yang mamaknai proses belajarnya sendiri, diharapkan siswa dapat memaahami potensi diri, mengembangkan potensi dirinya secara positif, dan meminimalkan potensi diri yang bersifat nega

persembahan untuk sahabat

December 22nd, 2015

duniaku ada karenamu
duniaku berwarna karena kamu
sampai detik ini kau paling berarti di hati, sangat berarti
tak pernah ku pungkiri karena mungkin hatiku tiada bisa berkata lain
kau mengisi hari-hariku
menghiasi setiap langkahku
aku takjub akan kehangatanmu
walaupun kau bukan malaikat seperti yang orang bilang
namun kau pelita ditengah gersangnya sahara
ketika orang lain meragukan tentang arti namamu
aku tetap memegang teguh kepercayaanku, tanpa ragu, entah mengapa
kata bijakmu selalu berhasil meluluhkan egoku
kerinduan akan dirimu (kalian) selalu meresahkan tidurku
jangan pernah berhenti tuk memberi arti dalam hidupku
selamanya, selalu..
sahabatku 🙂

segenggam masalalu diujung kalbu

December 22nd, 2015

ketika merindu pada seseorang yang sama sekali tidak mengenalmu
pada siapa engkau mengadu
rasa itu bak bom waktu yang siap meledak sewaktu-waktu
nun jauh disana, seonggok hati telah menyihir hati
Tuhan..
andai kau beri waktu sedetik untukku kembali kemasa lalu
akan kupersiapkan hati dan seluruh jiwaku
demi seonggok hati yang kurindu
akan kurengkuh cintanya dengan cintaku
Tuhan..
andai ku tahu takdirmu lebih dahulu
tak akan aku berada ditempat gelap ini
sendiri berteman sepi
berharap cintaku menghampiri
tapi Tuhan..
aku takut jatuh cinta
bahkan aku takut hanya untuk sekedar mengatakan suka
kenapa Tuhan ?
bukankah kau ciptakan hati untuk mencintai dan dicintai  ?
lalu kenapa cinta malah datang untuk meremukkan hati ?
tapi  Tuhan, sesakit dan seburuk apapun
akan menjadi indah apabila rasa ini Engkau sertai

sepotong rindu disudut kalbu

December 1st, 2015

ketika merindu kepada seseorang yang bahkan tiada pernah mengenalku
pada siapa aku mengadu ?
sementara rasa ini semakin lama semakin mendesak bak bom waktu yang siap untuk meledak sewaktu-waktu
karena nun jauh disana, seonggok hati telah menyihir hati
membuat hari-hari penuh sesak akan kekrinduan yang membuncah
Tuhan…
aku tahu rasa ini indah, tapi aku tak sanggup untuk memaksanya ada
Tuhan…
andai kau beri aku waktu untuk sejenak kembali ke masalalu
akan kupersiapkan seluruh jiwa ragaku untuk menyambutnya
demi seonggok hati yang telah lama ku rindu
akan kuengkuh cintanya dengan cintaku, atas ridhamu
Tuhan…
andai aku lebih dulu tahu akan takdirku
tak akan aku berada ditempat yang asing dan gelap ini
sendiri berteman sepi, hanya berharap tiada pasti cinta akan datang menghampiri
Tapi Tuhan…
Aku takut jatuh cinta
bahkan aku terlalu takut hanya sekedar untuk mengatakan suka
Kenapa Tuhan ?..
bukankah kau ciptakan hati untuk merasakan mencintai dan dicintai ?
lalu kau kenapa kau ciptakan lara, luka dan kecewa atas nama cinta ?
Tapi Tuhan…
seburuk dan sesakit apapun, akan menjadi hal yang sangat indah apabila rasa ini kau sertai

Sebuah penantian..

November 14th, 2015

ketika rasa ini muncul dalam jiwa
aku semakin melihat bahwa kau hanyalah asa
tak mampu ku rengkuh, hanya nanar mataku memandang dari kejauhan
semakin jauh, kabur.. dan perlahan hilang

kini hanya ada aku dalam diam, sendiri, menatap rona senja pagi
berkutat dengan angan dan penantian yang tak berujung
mencoba berdamai dengan keadaan yang kian suram, bak malam tanpa bintang
tiada apapun yang tersisa selain rasa serta asa
rasa yang akan abadi untuk tetap menanti
bahkan meski kutahu akhirnya
pokokpun harus kutebang sebelum kau sempat melihat dia menguncup

tapi suatu saat nanti, setelah rasa ini berganti
kutahu seluruh sinar abadi akan kembali
mengganti hati yang sempat mati dalam penantian yang sepi
sepotong jiwa yang baru akan kembali hadir disini
mengisi relung hati ..

Bersamaku..

November 13th, 2015

Bersamaku. . .

kamu tidak perlu repot-repot berdandan berjam-jam,  toh make-up mu akan luntur oleh air hujan. Kita akan hujan-hujanan. Toh make-up mu juga akan hilang dibasuh air wudhu. Aku tidak ingin orang lain tau kecantikanmu yang sebenarnya. Sederhana saja kan lebih enak. .

Bersamaku. . .

kamu tidak perlu takut berbuat aneh. Tidak perlu mengatur diri agar terlihat anggun. Aku tidak sedang berjalan bersama model di catwalk kan? Sederhana saja kan lebih nyaman. . .

Bersamaku. . .

kamu tidak perlu takut untuk kentut atau izin ke belakang berlama-lama, namanya juga manusia, kalo ditahan nanti malah masuk rumah sakit. Sederhana saja, keterbukaan kan lebih menenangkan. .

Besamaku. . .

kamu tidak perlu repot makan bergaya eropa, kita akan makan dimanapun. Selama halal, bersih dan sehat. Kita bisa sambil bercanda sesekali dalam jeda. Sederhana saja kan lebih asyik. .

Bersamaku. . .

kamu tidak perlu takut kalau tidak bisa masak. Kita bisa belajar bersama. Kau tak perlu takut tidak bisa mengurusku. Kan tugasku yang mengurusmu. Menjamin kehidupanmu sebagaimana yang telah kujanjikan pada orangtuamu, memastikanmu selalu baik-baik saja. Kamu cukup bersamaku dan menjadikan kebersamaan kita sebagai pahala. Sederhana saja bukan, tidak saling menuntut berlebihan. .

Bersamaku. . .

kamu tidak perlu takut untuk menjadi dirimu sendiri, kamu boleh marah, kamu boleh menangis, kamu boleh bahagia. Selama kamu tidak berlarut-berlarut berdiam diri. Kan aku bukan cenayang. Sederhana saja bukan, saling bicara lebih menentramkan. .

Bersamaku. . .

kamu tidak perlu takut kehilangan teman. Teman-teman baikmu ajaklah kemari, kenalkan padaku. Aku akan menjadi teman baik mereka juga. Agar kita bisa bermain bersama-sama dengan mereka diwaktu luang. .

Bersamaku. . .

semua hal yag kamu takutkan tidak perlu kamu takutkan lagi. Sederhana kan? aku hanya ingin menghilangkan ketakutanmu disaat sendiri. .
Kita akan selalu bersama dalam kebahagiaan,, itu janjiku padamu dan pada Yang Maha Esa

 
KG (dengan sedikit revisi)